Showing posts with label Pejuang. Show all posts
Showing posts with label Pejuang. Show all posts

LIHAT AKU DARI KEKEJIAN MEREKA - VICTOR JARA



Dengan mataku sendiri di Warsawa,
aku telah melihat peringantan kekejian terhadap Yahudi,
kekalutan manusia akibat bom,
perang, yang mencabik-cabik kemanusiaan dan semua yang dilahirkannya.
Tapi aku juga telah melihat apa yang dicapai oleh cinta,
apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan seseorang yang bahagia.
Karenanya, dan karena, diatas segalanya,
aku begitu bergairah akan perdamaian, aku butuh kayu dan senar bagi gitarku,
agar aku bisa memaknai kesedihan dan kebahagiaan,
membasuhkan sajak bagi hati yang terbuka-lirih,
menggariskan arah yang bisa membantu kita semua takzim
serta sanggup melihat dunia dengan pandangan baru—Victor Jara.


Victor Jara (baca: Victor Hara), jelas memberi pengaruh yang sangat penting bagi musik dan kebudayaan Chile. Hidupnya merupakan cerminan negerinya, rakyatnya, dan filsafat hidupnya.

Ia dipenjara pada tanggal 11 september 1973. Di penjara, ia kukuh ingin bernyanyi, ia nyanyikan lagu Venceremos (Kita Pasti Menang)—lagu perjuangan Front Rakyat, yang dipimpin Salvador Allende—tentara geram, tak sudi mendengarkannya bernyanyi bersemangat dengan gitarnya, mereka meremukkan tangannya degan popor senjata. Akhirnya, mereka bunuh Victor Jara pada tanggal 16 september 1973, saat berusia 40 tahun.

Jenazahnya tergeletak membusuk di pinggiran kota Santiago, Chile, saat ditemukan penghuni kampung kumuh yang mengenalinya, yang menyerahkannya ke pangkuan isterinya, seorang penari balet, Joan Jara.

Penahanan dan pembunuhannya dituangkan ke dalam film Llueve Sobre Santiago (Hujan Di Santiago) yang di Chile sendiri, tak pernah ditayangkan.

Saat mengenangnya, 25 tahun kemudian, terkumpul 60.000 tanda tangan, menuntut agar Estadio Chile (stadion Chile—tempat Victor dibunuh) diganti namanya menjadi Stadion Victor Jara. Karena, pada tahun 1973, stadion tersebut, selain dijadikan tempat untuk menyiksa dan membunuh Victor, juga menjadi penjara bagi ribuan kaum kiri anggota Front Rakyat.

LATAR BELAKANG SOSIAL

Victor lahir 23 september 1938, di satu gubuk di Lonquen, satu desa kabupaten dekat Santiago. Gubuknya di batas akhir perkebunan tuan tanah Ruiz Tagle, dan dijepit batas awal perkebuan tuan tanah Fernando Prieto. Lonquen adalah desa kecil kaum tani bertanah sempit, dan desa bagi rumah-rumah buruh tani-tani yang bekerja pada segelintir tuan tanah yang menghisap bukan saja tanah, tapi juga manusia.

Victor bersaudara Maria, Georgina dan Eduardo. Ia paling muda. Istri Victor, Joan mengenang, “Victor anak buruh pembajak Chile, penyanyi rakyat Chile, artinya: benar-benar penyanyi rakyat sejati. Ibunya Amanda, bisa bermain gitar, menyanyi sambil menari berputar-putar pada saat pesta panen dan pesta pemakaman—petani Chile justru berpesta saat seseorang meninggal. Keluarganya sangat miskin. Mereka hidup di tanah pertanian yang keji, perkebunan feodal. Sering mereka tak diupah sama sekali—saat dibayar, diterimalah sekantong terigu dan buah-buahan. Buah-buahan sekedarnya saja. Setiap keluarga tani atau buruh tani punya rumah, yang tepatnya, gubuk. Kenangan Victor paling awal: pagi buta digiring ke samping rumah, disuruh mencuci muka dan kaki dengan sebaskom air. Akh..ia harus mencari kayu bakar, menyalakan api, dan menjerang air untuk menyeduh dedaunan (yang dijadikan teh) sebagai pendamping sarapan. Sarapan baginya benar-benar layaknya pesta!”

”Beberapa kenangan awalnya, aku pikir bagi dia bukanlah suatu penderitaan. Ia selalu takzim pada ibunya, seorang yang mengagumkan, katanya—begitu penuh semangat hidup; pekerja keras; kepribadiannya membuat hidup begitu berharga, segala beban penderitaan bisa ia tanggung; itulah kekuatan buat keluarganya. Ibunya merupakan bagian penting dalam hidup Victor. Ibunya mengajarkannya bermain gitar dan menari; ia pula yang mengajarkan berbagai lagu tradisional rakyat Chile; hidup bersama ibunya memberikan banyak pengaruh pada gaya musiknya. Ibunya sangat percaya pada kekuatan pendidikan, didorongnya terus Victor melanjutkan sekolah.”

Ibu Victor memutuskan pindah ke Santiago, saat Maria tersiram sepanci air panas; luka lepuh yang diderita Maria tak bisa dirawat di desanya, harus ke rumah sakit Santiago. Ibunya selalu mendapatkan jalan keluar untuk membesarkan anak-anaknya; kerja serabutan, dan akhirnya berjualan makanan di pinggir jalan dekat pasar, di Santiago. Tapi bapaknya malah meniggalkannya, pergi ke desa pegunungan.

Bapaknya Manuel, tak memberikan kenangan yang menyenangkan bagi Victor. Manuel, sebagaimana buruh Chile lainnya, menjadi brutal karena pekerjaannya, karena ketidakadilan, karena kemiskinan, disingkirkan dan dihisap, hingga mencari pelarian (tak sejati) pada alkohol. Dalam salah satu lagunya Victor berkata: ”Aku ingat raut wajah bapakku/bagai lubang di tembok/bagai lumpur campur tai sapi/dan ibuku selalu bekerja.” Saat mabuk, bapaknya selalu memukuli ibunya dan Victor. Saat ia berusia 6 atau 7 tahun, ia harus menemani bapaknya bekerja di perkebunan tuan tanah. Kadang-kadang ia menganggapnya sebagai pekerjaan luhur—sepanjang hari menuntun, manarik sapi, saat bapaknya menancapkan bajaknya ke tanah.

Victor anak yang tekun belajar, begitupun saat ia dipanggil ke luar kelas, hanya untuk mendengar berita: ibunya pingsan dan meninggal terkena serangan jantung ketika sedang melayani langganannya.

Victor praktis menjadi yatim piatu—saat ibunya meninggal, bapaknya tak mau datang ke Santiago untuk menolong dan meringankan bebannya. Sebagai remaja miskin, begitu dirundung kesedihan atas kematian ibunya. Ia hidup bersama kawan-kawannya, jarang ke sekolah. Saat berumur 15 tahun, ia tinggalkan sekolah umum, masuk seminari di San Bernando, kota kecil di selatan Santiago—ia percaya bahwa pekerjaan sebagai pastor merupakan hal yang paling penting di dunia. Tahun 1952, setelah 2 tahun asyik kemasyuk dengan agama, ia keluar dari seminari, tanpa bisa menjadi pastor, dan malah masuk ketentaraan. Tahun 1953 ia lulus dengan penghargaan, kembali ke desanya, Lonquen, tanpa pekerjaan atau masa depan, karenanya mulai mempelajari musik-musik rakyat bersama kawan-kawannya.

Tahun 1954, atas bantuan kawan-kawannya, ia masuk Universitas Chile, belajar musik, teater dan cerita-cerita rakyat, serta lulus tahun 1962. Di sini ia bertemu calon istrinya, Joan Turner, seorang dosen dari Inggris.

Di universitas inilah mulai kelihatan bakatnya sebagai sutradara, dan ia mulai menyutradarai beberapa program teater.

KREATIVITAS DAN PERJUANGAN POLITIKNYA

Victor, selaian terlibat dalam berbagai produksi teater, juga mulai menyanyi dan mempelajari musik rakyat saat ia bertemu Violeta Parra, yang memiliki cafe di Santiago, adalah artis dan penyanyi berbakat, sangat menghormati musik dan alat –alat musik tradisional Chile. Victor turut bantu-bantu di cafe tersebut, dan mulai sering menyanyi. Saat itulah, ia juga mulai terlibat dalam politik Chile. Pada tahun 1966 ia mulai membuat album solonya yang berjudul ”Victor Jara.” Tahun-tahun kemudian ia melanjutkan karirnya sebagai sutradara, mulai meluangkan banyak waktunya untuk bernyanyi dan aktivitas politik. Akhirnya, tahun 1970 ia meninggalkan kehidupan teater, lebih banyak meluangkan waktunya untuk rakyat Chile melalui lagu-lagunya.

Kecintaanya pada drama dan musik menghasilkan prestasi sebagai pemenang Festival Lagu Baru Chile, dengan lagu gubahannya Plegaria de un Labrador (Doa Seorang Buruh Tani). Ia juga adalah Direktur Lembaga Teater Universitas Chile, tempat ia mengajar seni pentas sampai tahun 1967. Selain sukses dalam karir musiknya, Victor juga mengorganisir pementasan Viet-Rock, opera rock tentang perang Vietnam. Dan kecintaanya terhadap seni kerakyatan justru melahirkan album yang berjudul ”Rakyat” yang oleh kritikus digolongkan sebagai karya musik yang kompleks. Bahan-bahan untuk album tersebut dilandasi pada pengakuannya sendiri bahwa ia juga adalah penghuni perumahan Herminda de la Victoria—perumahan bagi para tuna wisma—yang digusur.

Sisa hidupnya merupakan proses tak henti-hentinya berkreasi dan belajar, baik dalam musik maupun teater. Dibimbing oleh perasaan akan keadilan, ia bekerjasama erat dengan Partai Komunis Chile. Lagu-lagu dan karya teaternya mencerminkan kehidupan buruh tani Chile. Ia menggubah lagu-lagu yang begitu indah tentang pekerja, tentang pembuat tali rami, tentang penenun, tentang tukang cukur, tentang mereka yang membuat bajak, tentang buruh-buruh sederhana, yang membaktikan hidupnya bagi keadilan sosial.

Lagu-lagu Victor penuh dengan pemikirannya tentang rakyat Chile. Ia sangat mencintai para pekerja keras di kota kecil dan pedesaan, dan banyak lagu-lagunya dihaturkan untuk menghormatinya. Juga karena kecintaan yang sangat dalam pada rakyatnya, lagu-lagunya banyak menyerang ketidakadilan dalam masyarakat atau skandal politik di negerinya. Victor merupakan bagian penting dalam gerakan lagu-lagu Amerika Latin—apa yang disebut sebagai Nueva Cancion (Lagu Baru). Gerakan tersebut banyak melibatkan aktivis revolusioner Amerika Latin, dan semua artis Nueva Cancion memiliki kesamaan tujuan dan pemikiran. Akhirnya, gagasan-gagasan politik Victor merupakan bagian yang sangat penting dalam lagu-lagunya. Ia sangat percaya pada filsafat (jeneral) komunisme, layaknya banyak penyanyi progresif di Amerika Latin, karena menjanjikan hidup yang lebih baik bagi rakyatnya.

Begitu kental ketara cita-cita politiknya ia curahkan saat mendukung pencalonan Salvador Allende sebagai presiden Chile di tahun 1973. Victor sangat bergairah mendukung proses revolusioner tersebut. Hingga ia kemudian menjadi target kebencian kaum kanan, sebagaimana juga terhadap pekerja kebudayaan yang terlibat sepenuhnya dalam mensukseskan usaha revolusi. Allende menjuluki seniman-seniman tersebut sebagai ”orang yang berperasaan bagai anggur merah dan roti harum-manis.”

Allende merupakan bagian dari Koalisi Rakyat Bersatu (sub-seksi Partai Komunis Chile) dan Victor, bersama dengan penyanyi-penyanyi Chile lainnya, menyuguhkan konser untuk menghormati tujuan-tujuan politik Allende. Allende sendiri adalah calon presiden progresif yang sangat mencintai rakyat Chile. Koalisi Rakyat Bersatu punya rencana untuk menambah jumlah perumahan, dan memberikan pengobatan/perawatan kesehatan gratis. Salah satu konser terbesar yang bertujuan mengkampanyakan program Allende tersebut adalah konser di Stadion Chile. Banyak artis terlibat mendukung program Allende tersebut. Pada akhirnya, kampanye Allende sukses luar biasa—tahun 1973. Doktor Salvador Allende, anggota Partai Sosialis Chile, menjadi presiden sosialis pertama yang dipilih di Amerika Latin. Allende terpilih sebagai presiden Chile setelah memberikan beberapa kompromi dan manuver politik.

Namun demikian, banyak yang menentang kampanye pemilihan Allende. Pada tanggap 11 maret 1973, tentara yang dipimpin oleh Laksamana Toribio dan Jenderal Angkatan Darat Augusto Pinochet, dengan dibantu pemerintah Amerika Serikat (CIA), melancarkan kudeta brutal. Ribuan pimpinan dan pendukung Koalisi Rakyat Bersatu dipenjarakan, ratusan ditembak mati. Allende ”bunuh diri” setelah berikrar: ”Hanya kematianlah yang bisa memaksaku menyerahkan jabatan kepresidenanku.”

Akhirnya tentara dengan dibantu CIA mengambil alih kekuasaan. Pada hari tragedi tersebut, Victor sedang mengajar di Universitas Tehnik Negeri, yang dikurung tentara, yang sedang mencari Victor. Kemudian tentara membawa Victor dan tahanan pollitik lainnya ke Stadion Chile, tempat ia menyelenggarakan konser untuk kampanye Allende. Victor dipenjara selama 5 hari yang penuh siksaan mengerikan. Selama hari-hari itu, ia dipaksa mendekam di penjara yang dingin dan kotor tanpa diberi makan dan minum. Tapi—menurut kesaksian kawan-kawannya sesama tahanan—ia selalu memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan tahanan lainnya. Di sana, tentara menyiksa dan membunuh banyak tahanan. Mereka meremukkan tangan Victor (banyak kesaksian yang menyatakan bahwa tangan Victor dipotong, tapi dalam buku Joan Jara, isterinya, saat ia melihat jenazah suaminya dengan tangan remuk) hingga ia tak bisa memainkan gitar, namun Victor tetap menyanyikan lagu-lagunya. Walau dalam siksaan yang mengerikan, Victor tetap menyanyikan lagu perjuangan Koalisi Rakyat Bersatu yang sangat indah itu. Selesai menyanyikannya, ia menerima siksaan yang begitu berat, dan akhirnya ditembak di dagunya secara brutal dengan senapan mesin, gugur.

Setelah jenzahnya ditemukan, Joan Jara sempat menghaturkan pemakaman bagi suaminya secara layak. Setelah kudeta, karena banyak masalah politik, Joan dipaksa meninggalkan negerinya dengan membawa rekaman rahasia Victor.

Bahkan sampai sekarang, curahan lagu-lagu kemanusiaan dan politik Victor begitu dihormati di seluruh dunia, dan cita-cita Nueva Cancion serta musik politiknya secara umum tetap sangat berpengaruh kuat. Hidup Victor merupakan contoh indah penyanyi yang cerdik dan tulus, yang lantang diungkapkan dalam lagu-lagunya. Hasilnya, lagu-lagu Victor merupakan kesaksian atas kekuatan dan pandangan positif hidupnya. Victor, dari Chile, kawan yang besar, sederhana, penggubah indah, penyair rakyat, suami yang dicintai, musisi rakyat, lelaki mandiri, pahlawan rakyat, dibunuh secara pengecut oleh tentara Chile pada 15 september 1973, di stadion Chile. Tangannya diremukkan, hidupnya disiksa. Tapi kenangan tetap hidup... selamanya.


GERAKAN KEBUDAYAANYA

”Tak ada Revolusi Tanpa Lagu-Lagu!” Itulah spanduk besar yang dipampangkan saat kampanye Salvador Allende, yang menunjukkan pengaruh bahwa gerakan Nueva Cancion sangat kuat tertanam dalam proses politik Chile. Lagu-lagu digunakan untuk mengungkapkan dukungan bagi Allende dan cita-cita politiknya. Nueva Cancion merupakan cerminan perasaan panyanyi dan penulisnya sebagai dedikasi bagi negerinya, dan memiliki pengaruh yang kuat pada musik Chile dan negeri-negeri Amerika Latin lainnya.

Budaya tradisional negeri Chile sangat penting pengaruhnya pada Nueva Cancion. Sebagai contoh, musik tradisional Victor mendapat pengaruh dari ibunya, dan terus berpengaruh dalam karya-karya selanjutnya. Dalam rasa hormatnya pada musik tradisional, ia juga menggunakan peralatan musik tradisional. Artis-artis Nueva Cancion sangat menghormati kaum tani dan buruh negeri tersebut—yang mereka anggap paling berjasa mewariskan, memelihara tradisi musik dan kebudayaan rakyat Chile. Ungkapan-ungkapan Nueva Cancion mengabaikan hal-hal materialistik dan lebih memfokuskan diri pada perasaan dan pemikiran rakyat negeri Chile. Perubahan fokus tersebut bukanlah merupakan ekspresi pribadi, bagaimanapun juga—Nueva Cancion telah digunakan sebagai senjata politik untuk menyerang sistim pemerintahan. Ringkasnya, Nueva Cancion memiliki kepercayaan bahwa lagu-lagu bisa digunakan untuk mengatasi masalah negeri. Kekuatan Nueva Cancion datang dari kemampuaanya untuk memulai dukungan bagi revolusi di Chile.

Seluruh artis Nueva Cancion memiliki beberapa kesamaan. Pertama, mereka memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap orang-orang miskin, dan hormat pada kebudayaan, peralatan serta musik rakyat. Kedua, karya-karyanya bertujuan untuk memperbaiki kondisi negeri agar lebih baik, khususnya buruh dan tani miskin. Menurut mereka, rakyat kecil tersebut tak memiliki pimpinan yang bisa mengungkapkan kebutuhannya, dan penyanyi serta penulis lagu Nueva Cancion wajib mengungkapkan suara mereka, menyalurkannya, hingga berhadapan langsung dengan pemerintah. Hasilnya, artis-artis Nueva Cancion banyak yang bisa mengatasi ketidakadilan di Chile.

Sejarah Nueva Cancion sarat dengan kejadian-kejadian politik Amerika Latin. Sejak sebelum tahun 1950, AS telah mewanti-wanti pengaruhnya bagi negeri-negeri Amerika Tengah dan Selatan. Berkali-kali AS memanipulasi peristiwa-peristiwa di negeri-negeri tersebut demi keuntungannya. Orang-orang berpendidikan dan tak berpendidikan di negeri-negeri tersebut merasakan pengaruh itu, dan berkali artis-artis Nueva Cancion mengunakan pandangan rakyat tersebut sebagai tema-tema lagunya. Tujuan-tujuan politik Nueva Cancion sering bertentangan dengan pemerintah (yang dipengaruhi AS). Penghancuran imperialisme merupakan bagian penting dalam karya-karya Nueva Cancion.

Nueva Cancion dimulai di Argentina, saat negeri ini berada di bawah kekuasaan rejim Peron. Di Argentina Nueva Cancion digunakan untuk menghidupkan kembali lagu-lagu tradisional mereka. Jadi, fokus artis-artis Nueva Cancion adalah menemukan kembali dan mengajarkan musik tradisional Argentina. Saat gerakan Nueva Cancion meluas ke Chile, ia mulai mempengaruhi politik negeri tersebut. Violeta Parra lah yang paling berjasa dalam pembangunan awal gerakan Nueva Cancion di Chile. Dia bukan saja mahasiswi musik tradisional Chile, tapi juga memiliki kepedulian pada problem-problem ketidakadilan dan kemiskinan di negerinya. Setelah berkenalan denga Victor, ia banyak meluangkan waktu bersamanya. Musik Victor dikembangkan berdasarkan suatu kombinasi antara pengalaman hidupnya dengan pengetahuan Voileta Parra. Sebagaimana bisa dilihat dari kehidupan Victor, musiknya memiliki dampak yang besar bagi negerinya. Kebesaran gerakan Nueva Cancion terlihat saaat pemilihan Presiden Salvador Allende—anggota Koalisi Rakyat Bersatu, yang bergerak di bawah platform reformasi. Dengan kematian Victor, musik dan kekuatan Nueva Cancion justru tambah berkembang di Chile, walau banyak upaya pemerintah menindasnya. Musik Victor dan penyanyi-penyanyi lainnya dirampas dan dilarang disiarkan di radio, dan dua kelompok penting Nueva Cancion di Chile justru bertambah, Quilapayun dan Inti Illimani, diusir dari negerinya selama beberapa tahun. Tapi sekarang, ide-ide Nueva Cancion telah kembali ke Chile. Pada tahun 1990 setelah tersingkirnya diktator penindas, diselenggarakn perayaan besar untuk menghormati Victor, dengan tema ”Lagu Kebebasan,” menampilkan berbagai kelompok yang memainkan alat-alat tradisonal dan mengungkapakan ide-ide Nueva Cancion.

Disamping karya-karya Victor di Chile, ide-ide Nueva Cancion juga dianggap penting di negeri-negeri lain. Contohmya di Kuba, gerakan Nueva Cancion diacu sebagai Nueva Trova. Gerakan tersebut mendukung cita-cita revolusi Fidel Castro di Kuba. Penyanyi-penyanyi Kuba menggubah lagu tentang pemerintahan baru, pemerintahan masa depan, yang membantu meningkatkan semangant rakyat agar tetap tinggi, walaupun dalam keadaan sengsara setelah revolusi. Pablo Milenas dan Silvio Rodriguez adalah dua penyanyi/penggubah yang identik dengan Nueva Cancion-nya Kuba. Di negeri-negeri Amerika Tengah, Nueva Cancion malahan sering digunakan untuk tujuan yang bertentangan. Di negeri-negeri tersebut, Nueva Cancion sering digunakan sebagai alat yang sangat ampuh untuk menentang pemerintahan. Sebagai contoh, di Nicaragua dan El Savador, para penyanyi menggubah lagu yang mendukung revolusi.

Walaupun terdapat berbagai ragam bentuk Nueva Cancion, tapi ia selalu merupakan cerminan kecintaan pada rakyat dan tradisi negeri. Kecintaan tersebut sering diungkapkan sebagai oposisi terhadap ketidakadilan dalam masyarakat dan dijadikan alat untuk mengakhirinya. Hidup dan karya Victor jelas menunjukkan karakter Nueva Cancion.

SAJAK TERAKHIR VICTOR

Sajak-sajak tersebut ditulis di stadion Chile, tepatnya di bagian stadion tinju, tempat Victor disiksa dan akhirnya dibunuh. Serpihan kertasnya diselundupkan oleh mereka yang berhasil hidup. Tapi sajak bagi lagunya itu tak selesai, hanya setengahnya, karena kemudian ia dipindah ke ruangan lain stadion dan ditembak berkali-kali oleh senapan mesin di dagunya.

Dalam salah satu baitnya, ia menulis: ”Keheningan dan jeritan adalah akhir laguku.”
”Mereka bisa membunuhnya, tapi mereka tidak bisa membunuh lagunya,” menurut isterinya.


LAGU UNTUK IBUNYA

Te Recuerdo Amanda (Aku Ingat Kau, Amanda) adalah lagu untuk ibunya. Saat Victor tahu bahwa anak perempuannya mengidap diabetes, ia menulis lagu cinta untuk ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda. Lagu itu adalah salah satu lagu yang sangat ia sayangi, dan mengungkapakan pemikirannya tentang keluarga serta cinta. Dalam lagu itu, Victor menggambarkan kesedihan cinta antara ibunya, Amanda dan bapaknya, Manuel (berbeda dengan di lagu lain, ”Bulan itu Selalu Cantik”, yang menggambarkan kehidupan mereka yang lebih ceria). Namun demikian, lagu ini mengungkapkan gagasan-gagasan Victor tentang cinta dalam bentuk indahnya tindakan-tindakan Amanda—berjalan di tengah-tengah hujan untuk menemui suaminya, sederhana saja karena ia mencintainya. Akhirnya lagu ini punya kaitan erat dengan ibunya, Amanda, dan anak perempuannya, Amanda, untuk menggambarkan gagasan Victor tentang keabadian hidup:

Aku ingat kau Amanda/
saat jalanan basah/
lari ke pabrik/
tempat Manuel kerja/
dengan senyum renyah kau/
hujan di rambut kau/
tak ada urusan lain/
kau hanya bergairah menemuinya.

Sekedar lima menit seluruh hidup kau/
ada dalam lima menit/
sirine berbunyi/
saatnya kembali kerja/
dan saat kau berjalan/
kau cerahkan segalanya/
di lima menit itu/
bagai memberi kau bunga/

aku ingat kau Amanda/
saat jalanan basah/
lari ke pabrik/
tempat Manuel kerja.

Dengan senyum renyah kau/
hujan di rambut kau/
tak ada urusan lain/
kau hanya bergairah menemuinya.

Dan Manuel tak ada,
malah meninggalkannya,
ke gunung mencari nafkah/
tak ada rasa nyeri meninggalkannya/
ia malah lari ke gunung untuk bergelut/
dan dalam lima menit/
semuanya sirna/
sirine berbunyi/
saat kembali kerja/
salah satunya Manuel/

aku ingat kau Amanda/
saat jalanan basah/
lari ke pabrik/
tempat Manuel kerja.

------------------------------------------------------------
Tulisan ini diambil dari PEMBEBASAN, terbitan Partai Rakyat Demokratik (PRD).
No. 2 / Tahun I / Juni - Juli 2002.

ROQUE DALTON


Aku Senang Tertawa, dan Mengasihi Rakyat

Diambil Dari Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik

Roque Dalton lahir pada 14 Mei 1935 di San Salvador El Salvador. Bapaknya salah seorang dari residivis Dalton Bersaudara. Ibunya seorang perawat yang menanggung hidup keluarganya. Setelah setahun di Universitas Santiago Chili, Roque mendaftar ke Universitas San Salvador tahun 1956, di sini ia mendirikan Lingkaran Studi Sastra Universitas yang gedungnya kemudian dibakar tentara. Setahun setelah itu, ia bergabung dengan Partai Komunis; karenanya pada tahun 1959 dan tahun 1960 ia dipenjara dengan dakwaan menghasut tentara dan kaum tani untuk memberontak pada tuan tanah. Dalton divonis mati, tapi hidupnya diselamatkan sehari sebelum eksekusi saat diktator Kolonel José Maria Lemus terguling. Pada tahun 1961 ia menjalani pembuangan di Mexico, menulis beberapa sajak yang dipublikasikan dalam La Ventana en el rostro (“Jendela yang di Hadapan Mukaku”) dan El turno del ofendido (“Giliran Mereka yang dizalimi”) yang ia dedikasikan untuk kepala kepolisan El Salvador, yang gagal mendakwanya.

Ia ke Mexico, sebagai buangan politik. Dari Mexico Roque secara sukarela pindah dan menetap di Kuba. Dengan hangat para penulis Kuba dan buangan Amerika Latin yang biasa ngumpul-ngumpul di Casa de las Amèricas menyambutnya. Sejak saat itu [dimulai dengan karyanya “Jendela di Hadapan Mukaku” dan El Mar (“Laut Itu”) pada tahun 1962] hampir seluruh karya puisinya diterbitkan di Kuba. Pada musim panas 1965 ia kembali ke El Salvador untuk melanjutkankan perjuangan politiknya. Dua bulan setelah kedatangannya, ia ditangkap lagi, disiksa dan lagi-lagi divonis mati. Tapi lagi-lagi ia berhasil melarikan diri saat gempa bumi menghancurkan dinding selnya, ia gali reruntuhan dinding selnya menjadi lubang jalan lari.

Roque kembali ke Kuba dan, beberapa bulan kemudian Partai Komunis mengirimnya ke Praha sebagai koresponden The International Review: Problems of Peace and Socialism. Pada tahun 1969 bukunya Taberna y ostros lugares (“Warung Tempat Mabuk dan Tempat-tempat Lainnya”) yang menggambarkan pengalaman selama ia tinggal di Praha memenangkan Penghargaan Pusisi Casa de las Amèricas dan menempatkannya pada umur 34 tahun sebagai salah seorang penyair muda terbaik Amerika Latin. Pada tahun 1975, faksi militer gerilya Marxis, Rakyat Revolusioner Ejército (ERP) secara tak adil menuduhnya mencoba memecah belah organisasi dan menghakiminya dengan hukuman mati. Mereka mengeksekusinya pada 10 Mei 1975, empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-40.

Akh, puisi, ia pun menyayangi revolusi
Kelahirannya sebagai anak haram dan statusnya sebagai anak tersingkir di sekolah anak-anak orang kaya, mematangkan perasaan sakithatinya, dan itu lah tak diragukan lagi, akar yang menentukan Roque menolak norma-norma yang ada, yang terbawa hingga masa dewasanya. Ia lah yang terpandai di kelasnya, terpilih sebagai murid rangking tertinggi pada hari wisuda. Pada perayaan wisuda, ia mengambil kesempatan untuk melampiaskan perasaan sakithatinya pada kemunafikan guru-guru Jesuitnya yang tanpa malu-malu mendukung prasangka-prasangka mayoritas orang kaya di sekolahnya, walau pun mereka tak terang-terangan menyemangatinya, tapi mereka mentolerir perlakuan diskrininatif (yang menjijikan) murid-murid kaya terhadap saudara-saudara sesama umat Yesus yang miskin atau anak-anak haram.

Roque sudah menjadi seorang revolusioner militan saat revolusi Kuba (Januari 1959) menghasilkan kejutan (bagai gempa) dalam kesadaran sosial seluruh orang Amerika Latin. Pasti lah merupakan pengalaman luar biasa bagi penyair berumur 24 tahun menyaksikan bahwa keyakinan revolusionernya bisa diwujudkan, apalagi telah ia lantangkan, sudah ia kerjakan bahkan pernah

Salah satu konsekwensi vitalitasnya adalah hasil kerjanya yang berlimpah: 18 volume puisi dan prosa, sebelum kematian (prematur) pada usia 40 tahun. Konsekwensi lainnya, penampakkan tak sabaran untuk merevisi-mengerjakan ulang sajak-sajaknya. Walaupun faktanya bahwa banyak karya sindirannya dipulas dan diasah bagaikan intan, tapi seseorang akan mendapat kesan seakan-akan karya-karyanya tak diolah secara hati-hati dan sabar, atau datang begitu saja ke kepalanya, dan terdorong ke luar begitu saja mungkin di bagian belakang amplop, atau di selembar tissue-tatakan, dikumpulkan, lalu masuk kantong. Membaca kembali karyanya, seesorang tak bisa menghindari sensasi (dipancarkan, tak ragu lagi, oleh pengetahuan setelah momen terjadi) bahwa dia penulis yang terburu-buru; bahwa ia, dalam beberapa hal, tahu waktunya terbatas, hari-harinya terbatas, dan ia harus segera memanfaatkan setiap momentum, apapun aktivitas yang sedang ia jalani.

Ia akan bercerita tentang hal-hal fantastik tentang El Salvador seperti yang dikarangannya. Seorang lelaki yang pernah dipenjara seorang yang benar-benar menyelam ke kedalaman penjara yang dipenuhi kecoa, selama beberapa tahun. Gila, memang, saat mereka memberikan kesempatan padanya untuk melarikan diri dari penjara; ia tak mau melepaskan kesempatan tersebut sampai gigitan kecoa yang terakhir. Ia akan tersenyum penuh berkah dan baginya dikelilingi kecoa bagai dikelilingi kupu-kupu. Sekali waktu Roque pernah dipenjara dan mereka akan menembaknya. Apalagi mereka menghasut agar partai percaya bahwa ia adalah agen dan intel CIA. Maksud mereka agar jika ia dibunuh ia tak akan jadi martir. Ia tak percaya Tuhan tapi malam itu ia berdoa, ia berlutut di sel-nya dan berdoa. Bila “keberuntungan gila” datang katanya, datang lah gempa bumi malam ini juga, penjara runtuh dan ia melarikan diri. Cinto Vitier, Fina dan Aku menertawainya, mengatakan padanya bahwa kami punya sebutan lain bagi apa yang ia sebut sebagai “keberuntungan gila”, dan ia juga tertawa. Roque selalu ada dalam susana humor (tak kepalang tanggung), walau banyak hal mengerikan telah ia jalani, segala hal mengerikan yang akan selalu menunggunya di depan hidupnya yang, sebenarnya, sudah ia perkirakan sebelumnya. Komitmen Roque Dalton pada revolusi bagai suatu akad nikah. Ia mengawini revolusi. Takdirnya bukan sekadar menyanyikan revolusi, tapi juga memberikan hidupnya, nyawanya, bagi revolusi. Sekarang ia merasuk lagi dalam kehidupan banyak orang, ia hidup kembali dalam pemberontakan El Salvador. Ia selalu tertawa, di tengah-tengah pembantaian, di tengah-tengah tangisan. Ia tertawa karena ia merasa menang. Seolah-olah ia lah pemenangnya. Roque Dalton akan menjadi taman kanak-kanak, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit; ia akan menjadi sajak yang ia tulis dan sajak-sajak lainnya yang belum ia tulis. Roque Dalton akan tertawa, penduduk Roque Dalton yang bahagia.

Karya sindiran-nyinyir (nya) dibasuh kemanusiaan yang lemah lembut; Menurut Majalah Reportase Katolik Nasional: …seorang yang sederhana, jujur, kawan rakyat El Salvador yang penuh dedikasi; Anaknya Juan Jose Dalton mengatakan: “Ayahku dibunuh karena perbedaan politik, dan pimpinan gerilaya ERP tak pernah memebrikan otok-ktitik resmi yang mendalam dan sadar.”

Aku
Sebagaimana juga kau
yang mencintai rasa sayang, mencintai hidup, pertemuan yang manis
dalam segala hal, pemandangan birunya langit
di satu hari bulan Januari.

Darahku juga mendidih
dan aku tertawa hingga mataku
paham pedihnya airmata.

Menurutku dunia ini indah
dan puisi bagai roti; milik semua orang.
Dan urat-urat syarafku tak berujung di diriku
tapi di banjirnya darah
mereka yang berjuang untuk hidup,
cinta,
segala sesuatu,
pemandangan dan roti,
puisi bagi semuanya.

Roque Dalton

Syair Untuk Rakyat Chili (dan Kita)



-Tulisan ini disadur dari novel Antonio Skarmeta yang berjudul Il Postino (judul dalam versi Inggris dan Indonesia ) atau Ardiente Paciencia (judul dalam versi Spanyol)-

Oleh: Ragil*

Hari itu, ketika aku menerima telegram yang sangat penting dalam sejarah hidupku, tukang pos sahabatku itu nrocos tentang cinta yang membakar hatinya. Mau tidak mau, sebelum membacanya—dan telegram itu masih tergenggam ditanganku---aku harus mendengarkan curahan hati sang tukang pos itu—yang menjadi cerewet karena cinta itu dan menjadi sok pujangga ketika menggambarkan montoknya payudara sang perempuan (dengan tidak malunya, metafor-metafor yang diambilnya berasal dari puisi-puisiku). Sampai akhirnya aku berkata—karena ia terus meluncurkan kata-katanya yang tanpa rem itu: “Dengar, Nak. Kau mengantarkan sepucuk telegram penting untukku dan kalau kita terus-terusan membicarakan Beatriz Gonzales pesan ini akan membusuk ditanganku”—sebuah usiran yang halus sebetulnya. Tukang pos itu tidak pergi, tetap berdiri ditempatnya, seperti tonggak yang tertancap—dan aku benar-benar tidak tega mengusirnya—sehingga, aku biarkan saja ia ditempatnya. Aku pun membaca telegram itu, ternyata telegram dari Komite Sentral Partai (Partai Komunis Chili): AKU DICALONKAN MENJADI PRESIDEN.
Pecalonanku itu segera membawa anganku mengembara ke masa lalu, masa-masa ketika aku masih muda. Anganku segera berhenti pada tahun 1945, ya, masa-masa ketika aku bergabung dengan Partai Komunis dan terpilih menjadi senator Republik. Tahun itu merupakan tahun yang penuh represif, penindasan, kesewenang-wenangan. Masa-masa Presiden Gonzalez Videla sangat represif, terutama peristiwa tahun 1947 itu, ketika dengan kejam dan brutal ia menghadapi aksi buruh. Aku memprotes dengan keras tindakan bar-bar itu, sampai akhirnya aku harus bergerak dibawah tanah sebelum akhirnya harus keluar dari Chile dan baru pulang “kampung” lagi tahun 1952. Sungguh kejadian-kejadian yang tidak dapat terlupakan, hidup dalam suasana yang menegangkan, yang jantung selalu berdebar-debar ketika melihat orang yang mencurigakan. Pada masa bergerak dibawah tanah itu, aku sempat bepergian ke Uni Soviet. Bagiku, Soviet adalah negeri yang perpustakaan-perpustakaannya, kampus-kampusnya, dan teater-teaternya terbuka untuk semua orang. Sungguh sangat senang aku berada disana, Rakyatnya memberikan penghargaan Lenin Peace Prize dan Stalin Prize—yang tentu tidak akan aku lupakan sepanjang hidupku. Masa-masa bawah tanah juga memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar sejarah Amerika Latin, Marxisme. Hasilnya, kumpulan puisi yang aku beri judul Canto General (1950), yang berisi 340 puisi, dan sempat dilarang di Chili.
Terus terang, Garcia Lorca yang gugur dalam perang saudara di Spanyol itu, yang banyak memberikan pengaruh dalam memilih kata-kata dalam puisi maupun dalam aktivitas politikku. Sejak kenal Lorca, puisiku mulai berorentasi politik dan peduli pada masalah-masalah sosial. Ya, karyaku España en el Corazón –Spain in My Heart (1937) yang telah menjadi tonggak baru kehidupan kepenyairanku. Gaya penulisanku menjadi lebih langsung dan sesederhana mungkin, agar lebih mudah dipahami oleh Rakyat tertindas. Aku mulai memihak mereka yang ditindas. Aku tersenyum kecut, mengingat-ingat peristiwa masa lalu itu, aku ternyata pernah melakukan sesuatu yang sebetulnya diluar keberanianku.
Bayangan masa lalu itu segera kabur setelah tukang pos tiba-tiba meminta pamit, aku segera menyadari bahwa masih ada orang disampingku. Segera aku lepas kepergian tukang pos dengan pandangan mataku. Setelah tukang pos hilang dari pandangan mata, aku segera membalik badan, masuk menuju beranda rumah. Sambil duduk diberanda rumah yang menghadap ke laut, kupandangi teregram itu. Ya, Aku hanya punya waktu dua hari untuk berkemas-kemas. Sebetulnya masih ada puisi yang belum aku selesaikan—karena dua hari setelah telegram itu sampai kepadaku, sebuah truk yang hingar bingar penuh dengan tempelan poster-- “Neruda for President”-- datang ke tempatku, pulau kecil di Isla Negra. Truk itu kemudian membawaku keluar dari daerah-daerah yang dipenuhi nelayan-nelayan miskin itu, menuju hingar bingarnya kota. Bertepatan dengan peristiwa itu, Ku goreskan dalam buku harianku kalimat-kalimat berikut ini:

“Kehidupan politik menyerbuku bagi halilintar dan merenggutkan aku dari karyaku. Massa besar manusia adalah guru yang paling agung yang pernah kupunyai. Aku bisa mendekati mereka dengan rasa malu bawaan seorang penyair atau kehatian-hatian seorang pemalu, tetapi begitu berada ditengah mereka, aku merasa berubah. Aku adalah bagian dari mayoritas hakiki; aku hanyalah sehelai daun dari pohon besar itu.

Mulailah proses pemilu itu, juru kampanye-juru kampanye masuk ke daerah-daerah terpencil, yang bahkan baru dikunjungi sekali dalam rentang hidup. Di kota-kota terpencil, kami dari partai komunis bicara kepada Rakyat, bahwa mereka miskin bukan karena malas, tapi karena ada sekelompok orang yang merampas hak-hak mereka. Di perkampungan nelayan kami bicara, bahwa hidup nelayan bisa makmur kalau tidak ada sekelompok orang-orang rakus, yang bisa hidup kaya rasa dengan memakan uang Rakyat. Begitu juga di perkampungan kumuh, dikampus, selalu kami sampaikan, bahwa kemiskinan bukan karena malas, tapi karena kapitalisme. Di manapun tempatnya, kami selalu katakan, bahwa sosialismelah jalan keluar untuk mengatasi kemiskinan itu. Ya, sosialisme, suatu tatanan hidup yang menghargai setiap tetes keringat kerja manusia, dimana orang akan memperoleh hasil sesuai dengan kerja mereka. Dalam hati aku gembira, ketika melihat mata Rakyat yang selama sebelumnya sayu, tapi, begitu mendegar kata-kata kami, tatapan-tatapan sayu itu digantikan tatapan yang berbinar-binar.
Dua bulan kemudian—tidak terasa aku telah menjelajahi kota demi kota di Chile selama dua bulan-- aku kembali ke kampung nelayan itu. Truk yang membawaku berhenti tepat di depan rumahku —nelayan-nelayan miskin itu menyambutku, termasuk tukang pos itu. Aku memberikan pidato singkat. Rakyat menyambut pidatoku yang sebenarnya biasa-biasa saja. Kembali aku ke rutinitas semula, membuat puisi, menjawab surat-surat, memandang deburan ombak, mendengarkan kicau burung camar di lautan lepas yang kadang menukik ke lautan menangkap ikan-ikan pindang, bermain-main dengan kepiting yang jalannya terseok-seok karena terlalu berat membawa capitnya, membuat jam pasir, melihat-lihat koleksi patung dadaku, mendengarkan musik. Sampai kemudian kabar yang mengembirakan itu sampai kepadaku, 4 September, Allende memenangkan pemilihan umum di Chile yang mengantarkannya menjadi presiden. Inilah sejarah pertama kalinya bagi partai marxis di dunia yang menaiki tampuk kepemimpinan lewat pemilu. Tidak ketinggalan Rakyat di daerahku juga menyambut kemenangan ini dengan penuh suka cita —bagi mereka inilah saat-saat kemenangan orang miskin, orang miskin yang biasanya selalu di bawah bisa berkuasa saat ini, Hidup Allende! Hidup Sosialisme!--teriakan-teriakan mereka dengan suka cita.
Aku sendiri, setelah masa suka cita itu, diangkat menjadi duta besar di Prancis. Ah, kembali kutinggalkan tempatku yang sunyi itu, tetapi ketika aku jauh darinya selalu menjadi tempat yang aku rindukan dan kerinduan ini sering kali menjadi kata-kata dalam puisiku —tetapi sepeninggalku, kampung itu menjadi ramai karena pemerintah Allende mulai menggalakkan pariwisata di tempat itu, buruh-buruh yang berlibur disarankan untuk pergi ke pantai yang dulunya sepi itu, sejak saat itu, apalagi setelah saluran listrik masuk ke kawasan itu, restoran-restoran berdiri, televisi mulai masuk, pendek kata, mulai hiduplah kota itu. Prancis memang negara yang paling sempurna, dalam makna revolusinya, sehingga disana berkembang segala peradaban dunia—ilmu pengetahuan, mode-modenya yang sudah populer di seluruh pelosok dunia, harum parfum yang selalu menjadi dambaan perempuan-perempuan itu, anggurnya yang bisa menghangatkan tubuh dua kekasih yang sedang kedinginan, pendidikannya, bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang bisa terawat dengan baik, museum-museumnya, perpustakaan-perpustakaanya.
Sebuah pengalaman berharga ketika ada di Prancis, aku mendapat hadiah Nobel dalam bidang kesusastraan. Hadiah ini —walaupun membanggakan— tetapi lebih banyak merepotkanku, aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak kenal waktu, menghadiri undangan ini undangan itu, wawancara di televisi yang jarang aku lakukan sebelumnya yang tentunya apabila ahli mimik melihatku tentu akan menertawakan penampilanku, dan yang tersulit adalah membuat kata sambutan untuk penerimaan hadiah Nobel yang rencananya akan dibacakan tanggal 13 Desember 1971, belum lagi aku harus menemukan judul yang pas, sebuah judul yang sederhana tetapi berisi —juga harus berbau puitis karena aku seorang penyair. Ya, walaupun aku harus habiskan waktu malamku di meja tulis, sehingga wajahku kelihatan pucat, selesai juga akhirnya kata sambutan itu, aku beri judul tulisan tersebut: Menuju Kota Agung.
Tidak perlu semuanya aku sampaikan kepada Anda isi pidatoku itu —karena sebagian besar, seperti kisah lelaki-lelaki sejati yang sedang mengembara untuk menguji kesejatianya— sehingga aku sampaikan bagian-bagian yang penting saja. Inilah bagian-bagian yang aku anggap penting itu dari pidatoku:

“Dengan menyentuh konsekuensi-konsekuensi ekstrem tugas kepenyairan tersebut, entah benar entah keliru, saya menetapkan bahwa sosok saya dalam masyarakat dan di hadapan kehidupan adalah sosok yang dengan cara sederhana memilih berpihak. Saya putuskan demikian ketika saya menyaksikan begitu banyak kemalangan yang bermartabat, kejayaan yang sunyi, dan kekalahan yang aku. Di tengah arena perjuangan Amerika saya mendapati bahwa tugas kemanusian saya tak lain adalah bergabung dengan kekuatan besar massa rakyat yang terorganisir, bergabung dengan kehidupan dan jiwa yang akrab dengan derita dan harapan. Sebab hanya dari arus besar rakyat inilah perubahan yang diperlukan muncul, demi sekian pengarang dan demi bangsa. Dan seandainya sikap saya ini melahirkan penolakan yang sengit atau keberatan yang bersahabat, yang jelas saya tidak bisa menemukan cara lain bagi seorang pengarang di negeri-negeri kami yang teramat luas dan kejam. Itulah cara paling sederhana jika kita menghendaki kegelapan menjadi taman bunga, jika kita ingin membagi perhatian kepada berjuta-juta rakyat yang tidak pernah belajar membaca apa yang kita tulis atau bahkan tidak belajar membaca apa pun sama sekali, yang tidak bisa menulis apalagi menulis kepada kita. Keberpihakan membuat saya merasa di rumah sendiri di kawasan terhormat ini dan tanpa itu mustahil bagi kita untuk menjadi manusia utuh.
Kami mewarisi kehidupan rakyat yang merana ini, yang menyeret-nyeret beban kutukan selama berabad-abad, rakyat yang paling mempesona, paling murni, yang dengan bebatuan dan logam mereka ciptakan menara yang menakjubkan dan berlian yang memukau kilaunya —rakyat yang mendadak-sontak dirampok dan dibungkam di zaman gelap kolonialisme yang masih membekas hingga kini.”

Ya, hadirin yang ada diruangan itu menyambutku dengan gemuruh tepukan tangan —semoga bukan tepukan yang kosong. Aku memang sudah menambatkan pilihanku: aku memihak mereka yang lemah, yang selalu kalah—dan itulah menurutku tugas seorang penyair sepertiku. Aku tidak bisa hanya bermain dengan kata-kata, tetapi harus memahami bagaimana darah orang-orang miskin mengalir, bagaimana degupan jantung mereka setelah pulang kerja tetapi hasilnya tidak sebanding dengan keringat yang telah mereka keluarkan, bagaimana nyanyian-nyayian alami yang berasal dari irama musik dalam perut yang kelaparan, aku harus tahu bagaimana anak-anak orang miskin belajar hidup, bagaimana buruh-buruh menghasilkan barang tetapi mereka tidak mengenal barang apa yang telah mereka buat, ya, yang jelas aku harus berada ditengah-tengah mereka, yang miskin bukan karena takdir, tetapi karena memang dimiskinkan oleh sistim yang dibuat orang-orang yang berkuasa. Bukan, bukan aku hendak menjadi mesias bagi orang miskin, tetapi memang itulah tugas yang harus aku jalankan sebagai seorang penyair. Inilah alasanku kenapa aku ambil bagian dalam proses perubahan di Chili —sebuah negeri yang terbelakang— yang sekarang sedang merangkak dengan penuh harapan menuju sejarah yang cerah.
Hari terus berjalan, matahari terus bersinar sesuai dengan hukumnya, begitu juga dengan keadaan ini. Awalnya semua berjalan dengan optimis, masa-masa penuh gairah itu, masa-masa Pemerintahan Allende. Tetapi, adakah musuh kebaikan akan tinggal diam? Dan memang ini yang terjadi. Kekuatan-kekuatan oposisi —yang sebetulnya kekuatan kanan, yaitu kaum pengusaha dan tentara-- mulai mengerogoti Pemerintahan Allende. Aku memang tidak mengetahuinya secara pasti, bagaimana sebenarnya “kemunduran” itu mulai terjadi, tetapi apabila aku baca surat dari tukang pos sobatku itu, situasinya mungkin sebagai berikut:

“Don Pablo, barang-barang mulai sulit didapatkan, seakan-akan semuanya hilang ditelan bumi. Mula-mula daging untuk membuat sup yang raib, sehingga sup itu hanya berisi sayur mayur yang mengapung-apung dan tulang-tulang tanpa sesayat daging pun, kemudian menyusul minyak, gula, deterjen, beras —semuanya menjadi barang yang langka, menjadi barang mewah. Selain itu, pasar-pasar gelap juga merebak, menyelundupkan barang-barang dari luar negeri. Di pelabuhan, ikan-ikan yang ditangkap oleh nelayan banyak yang membusuk karena truk-truk berpendingin --yang sebagian besar milik orang-orang kaya-- yang biasa membawa ikan-ikan itu, sopir-sopirnya pada mogok— selama Allende memerintah, nelayan diberikan kredit lunak untuk meningkatkan produksi ikan, sehingga bisa mengurangi pengeluaran pemerintah untuk daging impor, hasilnya, produk nelayan meningkat, truk-truk yang berpendingin pergi dari pelabuhan selalu dengan muatan yang penuh. Maka, ketika truk-truk berpendingin itu mogok —serikat-serikat buruh truk, yang didominasi orang-orang kaya itu, mengumumkan mogok sampai waktu yang tidak ditentukan— akibatnya, ikan-ikan itu hanya menumpuk di tempat pelelangan, lama kelamaan membusuk dan kemudian menebarkan aroma yang tidak sedap, yang menyebar ke seluruh kampung, mengundang datangnya pasukan lalat dan tikus, tidak ada pilihan lain bagi nelayan, selain membuang bangkai-bangkai ikan itu ke laut lagi —tapi aneh Don Pablo, setelah ikan-ikan itu dibuang kembali ke lautan, angkutan-angkutan beroperasi lagi—inilah yang meneguhkan kenyakinanku, memang semuanya yang terjadi telah direkayasa, bukan kebetulan, tetapi ada tangan-tangan yang bermain dibalik krisis yang sedang melanda seluruh Chili ini, tangan-tangan ini yang menginginkan Pemerintahan Allende yang sosialis itu runtuh, sehingga kelompok-kelompok kanan bisa berkuasa lagi. Lahan yang subur memang bagi kekuatan anti pemerintah Don Pablo, kekacauan-kekacauan ekonomi ini dijadikan amunisi bagi kekuatan-kekuatan kanan, mereka berkampanye-kampanye di semua tempat —seperti awal pemilu—termasuk di kampung kita, mereka mulai berkoar-koar bahwa ini akibat ketidak-becusan dari pemerintahan Allende, mereka membuat perbandingan-perbandingan, bahwa kemiskinan yang terjadi di Chili lebih parah bila dibanding yang terjadi di Etiophia dan Soviet. Mereka itu yang menyerukan kepada perempuan-perempuan Chili —yang kemudian diikuti orang-orang kaya, termasuk mertuaku-- maksudnya mertua tukang pos— untuk memukul panci, wajan, sebagai tanda protes dan menuntut agar Allende Mundur. Semakin hiruk pikuklah Chili dan kampung kita Don Pablo, tentu kalau kau ada disini akan membariskan kata-katamu dalam puisimu.”

Situasinya memang semakin memburuk, krisis, akibat konspirasi kekuatan-kekuatan anti sosialisme. Saat-saat itu akhirnya tiba juga, ketika semua radio mengumandangkan lagu-lagu perang dengan hentakan-hentakan iramanya—aku sedang sakit ketika itu, sudah tidak di Prancis lagi, tetapi sudah kembali di kampung nelayan itu, Isla Negra. Menurut penuturan tukang pos sahabatku itu, ketika ia hendak pergi ke kantor pos, ternyata kantor itu sudah dijaga oleh tentara, jalanan sunyi senyap, hanya disana-sini terdengar suara tembakan yang kadang dalam frekuensi yang lambat, kadang dengan frekeunsi tembakan yang cepat. Ya, rumahku sendiri ternyata sudah dijaga oleh segerombolan tentara, sedangkan dikejauhan, sebatas aku masih bisa memandang, terlihat sorot lampu tentara yang sedang mengadakan patroli, tidak ketinggalan suara helikopter sering berputar-putar di sekitar pelabuhan. Ya, saat kudeta itu telah dimulai. Jendral Pinochet dengan sandinya Operasi Jakarta itu, tepat pada tanggal 11 September 1973, menyerbu istana presiden, Allende ditembak tepat dikepalanya sampai terburai otaknya —istrinya sendiri tak diperkenankan untuk melihat jasatnya, walaupun untuk terakhir kalinya. Tentara terus melaju, masuk kepedalaman-pedalaman yang dianggap basis komunis, melakukan penangkapan-penangkapan kepada siapa saja yang dianggap pro komunis, ada yang dijebloskan ke dalam penjara, ada yang ditembak dipinggir jalan, mayatnya dibiarkan begitu saja sampai anjing-anjing yang kelaparan mengerogoti bagian demi bagian dari mayat itu. Pembersihan itu telah dimulai oleh Pinochet
Sementara itu, kondisiku semakin memburuk, mungkin ajal sudah akan segera tiba, ya aku teringat apa yang diucapkan Mercutio saat tertusuk pedang Tybalt: “Tidak, ini tiadalah sedalam sumur, tiada pula selebar pintu gereja; tapi cukuplah, cukup berpengaruh: temui aku besok, dan kau harus mendapatkan seorang tukang kubur untukku”. Dalam saat-saat terakhir hidupku ini —yang telah dikucilkan dari kehidupan— sahabatku hanya tukang pos itu. Sudah saatnya aku lantunkan puisiku:

“ Aku pulang ke laut dibungkus langit,
kesenyapan antara dua gelombang
menciptakan tegangan wingit
kehidupan mati, darah berhenti
lalu gerak baru mengembang
dan suara ketak-berhinggaan kembali berkumandang”

Epilog:
Pablo Neruda akhirnya meninggal dunia 23 September 1973 di Klinik Santa Maria. Rumahnya, di kaki gunung San Cristibol di Santiago dijarah, jendelanya dipecahkan, semua barang yang ada digenangi dengan air. Keesokan harinya, ditengah hunusan bayonet tentara fasis, penduduk membanjiri pemakaman sang penyair, untuk memberikan salam yang terakhir. Di dekat gundukan kuburannya, orang-orang melantunkan lagu Internationale —untuk Sang Penyair, Allende dan untuk sosialisme.
Terlahir pada tanggal 12 Juli 1904, di Parral dengan nama Neftalí Ricardo Reyes Basoalto. Ayah Pablo Neruda adalah Don Jose del Carmen Reyes Morales, seorang buruh rel kereta api yang miskin. Ibunya Rosa Baoalto de Reyes, seorang guru, yang mati akibat terkena TBC saat Neruda masih bayi. Mulai menulis puisi sejak usia sepuluh tahun.
Pada umur 12 tahun ia bertemu dengan seorang penyair Chili, Gabriela Mistral, yang juga pemenang penghargaan nobel sastra lainnya dari Chili pada tahun 1945. Perempuan Amerika Latin pertama yang memenangkan Nobel. Gabriela Mistral juga kepala sekolah sebuah sekolah menengah atas di kampung halaman Pablo, yang mendorong Pablo untuk menekuni kebiasaan menulisnya.

*Anggota PRD

SALVADOR ALLENDE



Sosialismelah Jalan untuk Menyejahterakan Rakyat


Oleh Thamrin Ananda | Diambil dari Koran Pembebasan [PRD]

Salvador Allende tak bisa dipisahkan dari pasang-surut perjuangan revolusioner rakyat Chili. Mulanya, tak ada yang meragukan dan bangga akan kemenangan partai kiri di benua Amerika ini dengan metode sosialisme jalan damai lewat parlementer. Sayang, kaum revolusioner Chili tak belajar pada jalan damai parlementer Partai Komunis Indonesia yang berakhir tragis: ratusan ribu aktivisnya dibantai kaum reaksioner tanpa perlawanan yang berarti persis seperti ternak yang digiring ke ladang pembantaian.
Chili, negara yang terletak di sebelah selatan Amerika Serikat ini dan kaum revolusionernya termasuk Allende sendiri menjadi cerita sedih dan penuh sesal bagi kalangan pejuang revolusioner di manapun. Tragis seperti drama-drama Yunani: Allende adalah presiden pertama yang berhaluan marxis yang dipilih secara demokratis dan matinya sangat tragis. Setelah pemerintahan revolusioner yang singkat Allende jatuh, Chili dikuasai militer. Pendukung Allende: orang-orang kiri ditangkap, dikumpulkan di sebuah stadion, dieksekusi. Jumlahnya sangat besar yakni 20% dari penduduk Chili sendiri yang waktu itu berjumlah 10 juta.
Kekalahan ini karena tak ada ketegasan dengan kekuatan sisa lama terutama dengan institusi militer. Pemerintah Allende sendiri masih terus saja dengan keyakinan demokratis formal: berkompromi dengan para jendral dan tak bersegera membubarkan tentara reguler tersebut dan menggantinya dengan tentara buruh. Justru sebaliknya Allende melucuti buruh yang sudah bersenjata. Akibatnya, kelas buruh merasa tidak mempunyai partai revolusioner yang independen dan kaum buruh pun bingung seperti lumpuh di hadapan ancaman militer. Di samping itu kaum klas pekerja Chili pun kurang mempersiapkan organisasi demokratik mereka. Karenanya, sekalipun Allende mencapai satu kemenangan dalam pemilu, kemenangan itu tidak akan membawa perubahan mendasar apapun dalam struktur aparatus Negara. Juga, kelas penguasa Chili dan kekuatan imperialis tidak akan dapat diusir begitu saja dari negeri itu dengan aksi-aksi Rakyat semata.
Ironisnya sandi penghancuran gerakan revolusi Chili sendiri bernama The Jakarta Operation yang mengisyaratkan kerja CIA yang berhasil menumpas kaum revolusioner Indonesia. Militer Chili sendiri mengakui bahwa model yang dilakukan itu adalah model Indonesia. Mereka ini dilatih di Pentagon Amerika. Dalam kurikulumnya, dikatakan bahwa Indonesia adalah negara yang sukses menghancurkan diktator kiri, dalam hal ini Sukarno melalui tangan militer pada tahun 1965. Karena itu, waktu Pinochet mau melakukan kudeta itu memakai sandi Operacion Jakarta: operasi Jakarta. Sebelum 11 September 1973 itu, di tembok-tembok di Chili, mereka menuliskan sebuah slogan besar: operasi Jakarta sedang mendatang; awas dengan operasi Jakarta. Dalam hal ini memang ada hubungan dekat dalam hal ide: hubungan intelektual antara Operasi Jakarta dengan tahun 1965. Ada kudeta, tapi kudeta di Chili lebih berdarah sedang Sukarno kudetanya lebih evolusioner.

Dilahirkan di Valparaíso, Chile, pada tanggal 26 Juli 1908 dari keluarga kelas menengah yang cukup mapan. Sebagai mahasiswa Universitas Chili, ia mulai terlibat dalam politik radikal, mendukung ide-ide marxisme. Ia pernah dua kali ditangkap karena aktivitas politiknya, dan karenanya, diskors dari kampusnya. Setelah selesai kuliah kedokteran, ia terlibat mendirikan Partai Sosialis Chilie pada tahun 1933, dan kemudian terpilih sebagai anggota majels rendah pada tahun 1937, di mana ia mulai membangun reputasinya sebagai seorang yang diandalkan oleh kaum miskin. Dia terpilih menjadi menteri kesehatan mulai tahun 1939 sampai 1942, dan secara khusus memberikan perhatian pada penyebab-penyebab masalah kesehatan. Kemudian pada tahun 1942 Allende menjadi pimpinan Partai Sosialis, dan terpilih menjadi anggota senat pada tahun 1945.

Allende pernah berjuang untuk menjadi presiden pada tahun 1952, 1958, dan 1964, namun menemui kegagalan. Periode tersebut adalah masa-masa meningkatnya tekanan terhadap perubahan ekonomi dan politik Chilie. Sampai akhirnya Ia berhasil terpilih sebagai Presiden pada tahun 1970 melalui pemilu yang demokratis dan jurdil, dibawah bendera sebuah partai aliansi United Popular. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana rakyat Chili di bawah pimpinan Partai Sosialis Allende berhasil mendapat kekuasaan lewat jalan damai. Allende pun tidak pernah menyembunyikan bahwa ia berhaluan Kiri-Marxis. Begitu berkuasa, ia mulai menjalankan pemikirannya: transisi demokrasi ke arah sosialisme, melalui Jalan Chili atau Via Chilena.

Program mendesaknya yaitu mencabut hukuman mati, mengakui semua parpol, land-reform dan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan besar, perbankan, pertambangan, telepon dan industri Amerika di Chili dan pemberian aset pada ekonomi kerakyatan. Tindakan ini tentu saja mengganggu kepentingan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Amerika Serikat pun mulai takut kalau nanti Chili menjadi negara komunis yang pertama secara demokratis terlebih bila Chili menjadi model bagi negara lain bagaimana partai komunis mampu mengalahkan kekuatan-kekuatan kanan secara demokratis. Amerika Serikatpun berusaha menggulingkan pemerintahan Allende.

11 September 1973, Jenderal Augusto Pinochet komandan angkatan laut Chili dalam nama OPERACION JAKARTA DI SANTIAGO DE CILE, dengan dukungan Amerika menggerakkan militer Chili melakukan kudeta terhadap pemerintahan Salvador Allende yang terpilih melalui pemilu yang demokratis. Amerika melalui CIA mulai memproduksi pamflet, poster, dan dokumen palsu mengenai rencana jahat Allende untuk membangun komunisme. Di bawah pengendalian Deputi Direktur Operasi CIA, William Colby, yang sebelumnya sukses menjatuhkan Presiden Soekarno, CIA mulai melancarkan perang propaganda untuk mendiskreditkan Allende. Kemudian, seperti biasa, muncul foto kuburan massal di bawah judul korban kekejian diktator komunis Allende.
Di tahun 1973 juga , di bawah nama sandi "Jakarta" terjadi pembunuhan seorang jenderal oleh pasukan yang sudah mendapat pelatihan dari CIA. Pembunuhan ini karena menolak tawaran melakukan kudeta. Tetapi, mesin-mesin propaganda CIA meniupkannya sebagai korban keganasan komunis diktator Allende.

Memasuki tahun 1970-an Chili sesungguhnya adalah negara paling demokratis di Amerika Selatan. Jauh lebih maju dari negara-negara tetangganya seperti Argentina dan Brazil. Sebagai layaknya negara demokratis, angkatan bersenjatanyapun adalah alat negara yang tugasnya melayani kebutuhan negara, dan tidak punya wewenang politik. Chili di tangan Pinochet pun berubah menjadi genangan darah kaum revousioner tak ubahnya seperti Indonesia di bawah Orde Baru, Soeharto.
Pengalaman rakyat Chili ini pun menjadi pelajaran bahwa sekali lagi : kaum reaksioner, kaum kapitalis, takkan rela menyerahkan kekuasaan kepada rakyat dengan cuma-cuma. Rakyat Indonesia sendiri sejak tahun 50-an awal, di bawah pimpinan partai revolusionernya, untuk memenangkan sosialisme: kekuasaan ada di tangan Rakyat, juga menempuh jalan damai parlementer. Hasilnya adalah jutaan bangkai untuk tegaknya pemerintahan baru militeristik-kapitalistik : Orde Baru.

Namun, saat ini barangkali Allende lebih bernasib baik di bandingkan Soekarno. Di Chili namanya bukan saja dinetralisir, tapi sudah dianggap sebagai presiden yang ideal dan bagus layaknya seorang santo. Ia pun dianggap pahlawan. Sementara Soekarno masih dianggap sebagai pesakitan politik.***
_____________________________________________
Penulis adalah Sekretaris Jendral Organisasi
Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh (FPDRA)

TIRTO ADHI SOERYO



Sang Pembebas yang Tersingkir dari Sejarah

Seorang besar acapkali baru terasa kadar kebesarannya tatkala dia sudah tiada. Dan selalu saja kita terlambat menyadarinya. Tak terbilang tokoh yang terlepas dari kesadaran historis kita, entah karena pemburaman ‘sejarah’ yang memang sering dikuasai kaum yang menang atau lantaran kita tak pernah sungguh-sungguh jujur dalam menilai kembali ‘sejarah’ kita sendiri. Dan karenanya, kita telah melupakan satu nama: Tirto Adhi Suryo. Sungguh ironis, mengingat dia adalah sosok paling penting bagi bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia. Tirto, pertama-tama harus diletakkan dalam setting sosial pergerakan nasional bangkitnya pers pribumi, pintu gerbang bagi, terutama, kaum terjajah ke alam demokrasi modern. Dan Tirto lah sang pemulanya. Tulisan-tulisannya yang tajam mengajarkan kaum terjajah untuk bangkit dan berani melawan kesewenangan kolonial, menjadi kaum mardika.
Pramudya Ananta Toer, penulis besarbeberapa kali, berturut-turut, dinominasikan meraih nobel kesusastraanmenuangkan segenap kekagumannya pada sang tokoh dengan menulis Sang Pemula dan tetralogi Buru Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Mencermati garis hidupnya, pada masanya Tirto memang seorang pribadi pemula, dalam segala hal. Ia lebih dikenal, itu pun oleh segelintir orang saja, sebagai perintis pers. Padahal, tangannya lah yang menciptakan hampir seluruh senjata bagi perubahan ke arah dunia modern. Tirto merupakan seorang pribumi pertama yang mendirikan NV (sebagai bentuk perniagaan), percetakan, hotel, lembaga bantuan hukum, lembaga penyalur tenaga kerja, perintis bidang periklanan, perintis emansipasi kaum perempuan, sekaligus pendiri SDI (menurut ejaan sekarang/MES: Serikat Dagang Islam), cikal bakal SI (MES: Serikat Islam), organisasi modern pribumi pertama dan terbesar di Indonesia.
Terlahir di Blora tahun 1880, dari keluarga aristokrat Jawa bapaknya seorang Bupati bernama RM Tirtodipuro. Djokomono, nama kecilnya. Satu hal yang membuatnya beruntung, karena asal muasal kastanya, adalah kesempatan mendapatkan pendidikan Eropa, sehingga ia bisa membandingkan antara kultur kasta bangsawannya, yang dianggapnya ‘kuno dan menindas’, dengan kultur ‘modern yang membebaskan’.
Djokomono kecil tak mengenal kedua orang tuanya dengan baik, sejak kecil ia hidup berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lain yang memiliki jabatan-jabatan penting pemerintahan di Jawa. Sosok yang ia sematkan hormat tertingginya adalah sang nenek seorang perempuan agung, yang dengan gagah berani menghadap Gubernur Jendral Hindia Belanda, memprotes ketidakadilan yang ditimpakan pada suaminya, seorang Bupati di Bojonegoro. Sang nenek lah yang memberinya petuah-petuah berharga: percaya pada kekuatan sendiri, tak takut pada kemiskinan dan kehilangan pangkat. Sikap Tirto yang berbeda dari watak kebanyakan kastanya: bicara lugas, berani menentang ketidakadilan, membuatnya tersisih dari pergaulan saudara-saudaranya. Terutama,
setelah ia menolak mentah-mentah meneruskan jabatan bapaknya.

Tirto, pribadi penggelisah dan sendiri, agaknya memang terlahir untuk membebaskan. Budaya tulis menghantarkannya pada dunia yang agung dan gemilang. Ia adalah seorang jurnalis pribumi pertama yang menulis dengan bahasa Melayu lingua franca. Ia adalah jurnalis yang jangkauan gagasannya melambung jauh melebihi keadaan jamannya. Di tangannya, pers menjelma sebagai senjata pembela keadilan. Dalam Zaman Bergerak, Takashi Shiraishi menyebut bahwa Tirto lah orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui tulisan. Tak berlebihan kiranya menyebut Tirto sebagai inisiator kebangkitan kesadaran nasional, yang mengawali langkahnya tanpa gentar: bahwa proses pemerdekaan harus dirintis dari dua bilah mata pisaukoran dan organisasi!

Titik terpenting hidupnya diawali ketika ia bersekolah di STOVIA pada usia
13 tahun. Ini memang tak lazim, umumnya anak para bangsawan lebih memilih sekolah pamong praja, yang menjamin jalan lempang menuju kekuasaan; sedangkan sekolah kedokteran, tentu lebih condong dengan ‘pengabdian’ ketimbang kekuasaan. Di sekolah ini lah dan di kota Batavia lah Tirto muda menempa diri dengan beragam pergaulan dan pengetahuan. Di lingkungan sosial seperti itu lah lah ia, untuk pertama kali, terbebas dari segala aturan feodal kebangsawanan yang menyesakkan.

Sejak mula cita-citanya cuma satu: membuat surat kabar sendiri, sebagai suluh penerang bagi bangsanya. Sayang, semua selalu terbentur ketiadaan dana.
Baru lah, pada tahun 1903, dengan bantuan modal dari RAA Prawiradiredja, Bupati Cianjur yang sepakat dengan ide-idenya, berdirilah surat kabar yang diberi nama Soenda Berita. Surat kabar pertama yang didirikan, dikelola dan diterbitkan oleh orang pribumi. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan bangsanya, menyiapkan pembaca memasuki dunia modern.

Pada tahun 1905, ketika Soenda Berita sudah bisa mengorganisir diri, Tirto mengembara ke Maluku. Di sana ia bertemu dan menikah dengan seorang putri Raja Bacan, Princess Fatimah perempuan cerdas lulusan MULO yang mahir berbahasa Belanda; seseorang yang kelak kemudian menjadi anggota redaksi Medan Priyayi. Sepulang dari Maluku tempat ia menyaksikan kebiadaban kolonial warisan JP Coen sebuah gelora baru merubah semua bentuk tulisannya: menjadi lebih lugas, lebih garang. Pada tahun 1907, ia mendirikan Medan Priyayi, sebuah mingguan sederhana berformat 12,5 x 19,5 cm,
dengan tebal 22 halaman. Untuk mengatasi persoalan modal, ia memulai sebuah gagasan bentuk perniagaan, yakni dengan meminta pelanggan membayar lebih dahulu dengan imbalan memiliki saham perusahaan bernama NV Medan Priyayi. Itu lah bentuk perniagaan pertama yang didirikan pribumi.

Mingguan Medan Priyayi semakin berkembang pesat, bahkan, setahun kemudian, berubah menjadi harian. Tirto menciptakan gaya jurnalistik tersendiri, radikal dan penuh sindiran. Ia menulis tentang berbagai penyelewengan dan kesewenangan yang dilakukan pemerintah kolonial maupun para kaki tangan pribumi. Semangatnya untuk menggerakkan bangsanya menentang ketidakadilan semakin berkobar. Tulisan-tulisannya makin berani. Ia, yang sangat mengagumi Max Havelaar, mengungkap kebusukan-kebusukan kolonial yang dibungkus politik etis. Pemerintah kolonial murka. Lantaran tulisannya tentang penyalahgunaan jabatan di sebuah daerah, Tirto dibuang ke Lampung, selama 3 bulan. Saat itu, hampir semua aktivis yang berani membuka kedok kekuasaan kolonial ke media massa sempat dijebloskan ke penjara. Mereka dijerat pers-delict, dianggap mengganggu rust en orde kolonial. Mas Marko, seorang jurnalis muda radikal, 4 kali mendekam di tahanan lantaran tulisan-tulisannya.

Sekembalinya dari pembuangan, Tirto membenahi NV Medan Priyayi yang sempat terbengkelai. Pada tahun 1907 ia mendirikan Sarekat Priyayi,
organisasi pribumi pertama, yang kemudian berubah menjadi SDIuntuk mengorganisir para pedagang batik yang berbasis di Solo. Pada tahun 1911,
ia berkeliling ke kota-kota besar pusat modal pribumi untuk mengorganisir pembentukan cabang-cabang SDI. Untuk itu, kepemimpinan SDI, untuk sementara, diserahkan pada H. Samanhudi, seorang saudagar batik terkemuka di Solo. Sayang, sejarah kemudian berkata lain, peranan Tirto sebagai pendiri SDI dikikis oleh H Samanhudi sendiri. Pemerintah kolonial, yang sangat membenci Tirto, lewat DA Rinkers, seorang ilmuwan Belanda yang mengabdi pada politik kolonial, membantu mengaburkan fakta ketokohan Tirto. Hingga, kemudian, Samanhudi lah yang lebih dikenal sebagai pendiri SDI yang, kemudian, berkembang pesat dan berubah menjadi SI.

Gerakan perempuan juga menjadi komitmen Tirto. Pada tahun 1908,
ia merintis pendirian surat kabar Poeteri Hindia, yang melahirkan nama
Siti Soendari sebagai penulis termahsyur. Siti Soendari, berpendidikan Belanda, lebih memilih menjadi perempuan merdeka, yang bercita-cita, ketimbang mengikuti kehendak orang tua, yang menawarkan segala fasilitas dan kemudahan. Jadi lah Soendari sebagai sosok aktivis politik perempuan pribumi pertama. Kebangkitan pergerakan perempuan paska Kartini mulai bertunas dan, kemudian, berkembang ke penjuru tanah air. Sebarisan srikandi yang bertarung melawan kekuatan zaman bermunculan. Di Sumatra Barat muncul Rohana Koedoes, yang mendirikan koran ‘Sunting Melayu”. Selain lewat koran, menurut Tirto, kemajuan gerakan perempuan juga harus dimulai lewat sekolah, ia menjadi donatur tetap sekolah perempuan di Jawa Barat yang didirikan oleh Dewi Sartika.

1909-1912, adalah titik puncak kegemilangan surat kabar harian Medan Priyayi. Jumlah pelanggannya mencapai 2.000 orang. Suatu masa yang sangat dicita-citakan Tirto sejak mudamenyaksikan bangsanya bangkit dari kebodohan dan ketertindasan hampir saja tercapai. Sayang sekali, roda sejarah berbalik arah. Karena gangguan kolonial, Medan Priyayialat propaganda dan pengorganisiran yang sudah demikian kokoh itu, akhirnya runtuh satu per satu omsetnya terus merosot; setoran dari para pelanggannya macet; beberapa perusahaan menolak pasang iklan. Medan Priyayi tak mampu melunasi biaya percetakan. Akhirnya, Agustus 1912, Medan Priyayi gugur secara dramatis. Seperti diistilahkan Pram, “semua yang dibangunnya runtuh. Juga nama baiknya. Yang tinggal hidup adalah amal dan semangatnya.”

Sang tokoh ditahan lantaran tak mampu melunasi tunggakan hutang. Sebagai hukumannya, ia dibuang ke Ambon pada tahun 1913. Dua tahun berikutnya ia baru kembali ke Jawa, ketika semuanya telah berubah. Jaman terus bergulir. Organisasi makin banyak bermunculan, puluhan tokoh namanya terderek naik, menyesaki rongga ingatan rakyat. Pergerakan nasional hampir mencapai titik terangnya.

Barangkali memang sudah menjadi sebuah kelaziman sejarah, manusia-manusia berjiwa agung harus mengakhiri periode hidupnya dalam kesepian dan keterasingan. Apakah itu Galileo, yang mati di tiang gantung; Marx, Soekarno, juga Chairil Anwar, yang mati di ujung perih dan sepi. Djokomono Tirto Adhi Soeryo, meninggal setelah menderita sakit bertahun-tahun. Tak jelas penyakit yang dideritanya. Tak ada yang pernah memeriksa, sekalipun kawan-kawan dekatnya adalah dokter-dokter termahsyur pada masanya. Ia telah terlunta-lunta, sendiri. Hotel Medan Priyayi, miliknya, yang semula banyak menghidupi surat kabarnya, telah berpindah tangan ke sahabatnya sendiri Gunawan, ketika ia masih dalam pengasingan. Tirto bertahan sampai wafatnya di sana, karena itu lah satu-satunya tempat ‘miliknya’ yang bisa dituju. Ia tak punya lagi sanak saudara. Tirtoyang, menurut propaganda kolonial, sangat berbahaya kondisinya sudah rapuh dan papa, membuat semua sahabatnya menjauh. Musuh-musuhnya kegirangan dan menyebut tokoh agung ini “terlunta-lunta
dan gila’.

Pada tanggal 7 Desember 1918, seperti digambarkan oleh mas Marko, seorang murid dan pengagum Tirto, dalam tulisannya: “dengan diantar rombongan sangat kecil jenazahnya dibawa ke peristirahatan terakhirnya di Mangga Dua.” Tak satupun koran memuat kabar kematiannya. Ia benar-benar telah dilupakan oleh bangsanya, yang dicintai, dan dididiknya untuk maju. Sementara itu, perjuangan pembebasan umat manusia, yang merupakan bagian terbesar dari seluruh perjuangan hidup dan cita-cita Tirto Adhi Soeryo, lambat laun mengalun. Ia telah terbaring tenang. Sebagaimana ditulis Pram dalam Sang Pemula: “ Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?” ***

________________________________
Diambil dari Koran Pembebasan
Partai Rakyat Demokratik [PRD]

Sneevliet:



Dari Belanda, Menebar Benih Radikalisme di Indonesia


Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja.
Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.
Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokan-pemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia
Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan.

Mendirikan ISDV

Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).
Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis.
Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:
Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini? Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang.

Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya.

Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya.
ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsip-prinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua.
Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917.

Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan Semaun-Darsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx.

Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941:
“Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.”

Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda.

Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers' Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942.
______________________________________________________
Diambil dari Koran Pembebasan Partai Rakyat Demokratik | No. 4 Tahun I November 2002

Njoto: Politik Itu Penting Sekali. Jika Kita Menghindarinya, Kita Akan Digilas Mati Olehnya

Oleh Tejo Priyono | Dimuat di Pembebasan Online |Selasa, 26 September 2006

Bogor, 6 Oktober 1965. Negara genting. Rabu pagi itu Bung Karno menelepon semua menteri supaya menghadiri sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Inilah rapat kabinet pertama yang diadakan Presiden setelah peristiwa G30S meletus. Sepekan baru berlalu sejak tujuh perwira tinggi TNI tewas dibunuh di Lubang Buaya. Jakarta diliputi pertanyaan besar: apa yang sesungguhnya terjadi? Betulkah Partai Komunis Indonesia terlibat?

Semua menteri segera bergegas ke Bogor dengan mobil dinas mereka. Beberapa di antaranya bahkan dikawal panser militer. Dua orang yang juga meluncur ke Bogor adalah Njoto dan M.H. Lukman. Keduanya adalah menteri negara yang juga pengurus teras PKI, partai yang dituding tentara berada di belakang prahara G30S. Ketua PKI, D.N. Aidit, yang juga salah satu menteri, telah hengkang ke Solo pada 1 Oktober pagi. Di dalam rapat kabinet itu, Nyoto menyatakan bahwa PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa berdarah G 30 S. "Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat." Soekarno pun berbicara: "Selalu ada peruncingan-peruncingan kekuatan. Kalau Darul Islam merupakan peruncingan kanan, Permesta peruncingan nasionalis, maka ini peruncingan kiri." Dan lagi, Sukarno menyebutkan bahwa peristiwa G30S hanyalah riak kecil dalam revolusi Indonesia. "Jika benar G 30 S didalangi PKI, tentu PKI bertindak kekanak-kanakan," kata Bung Karno.

***

Njoto adalah satu dari banyak nama yang muncul saat kita membaca atau menelusuri literature dan jejak sejarah gerakan komunis di Indonesia. Orang-orang komunis yang sering diungkapkan Soekarno (dalam setiap pidatonya) banyak berjasa dalam perjuangan bangsanya. Beribu-ribu mereka dibuang ke tempat-tempat pembuangan ke Digul atau mati dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Njoto anak tertua (satu-satunya lelaki) dari 3 bersaudara. Dilahirkan di Bondowoso, 17 Januari 1927; menikahi Soetarni (kelahiran Solo, 10 Juni 1928) yang berasal dari keluarga ningrat Mangkunegaran pada tahun 1955; dan punya 7 anak. Anak pertama, Svetlana, baru berumur 9 tahun saat pecah tragedi 1965 sementara anak terkecil masih dalam kandungan dan baru lahir pada Juli 1966. Njoto sendiri "hilang tanpa jejak" sejak 16 Desember 1965. Istri Njoto dan ke-7 anaknya sempat ditahan di salah satu Kodim di

Jakarta selama berbulan-bulan. Sekitar akhir 1966 atau awal 1967 dibebaskan dari Kodim, tapi pertengahan 1969 kembali ditangkap dan ditahan dari satu penjara ke penjara lainnya: Wonogiri, Semarang, Jakarta (Bukit Duri), dan terakhir di Plantungan, Jawa Tengah.

Njoto tidak hanya dikenal satu sebagai salah satu dari Tiga Serangkai orang-orang muda yang memimpin Partai Komunis Indonesia: Aidit, Lukman, Njoto. Nyoto sendiri kemudian dikenal sebagai Wakil Ketua II CC PKI di samping sebagai seorang publisis, penyair, essais dan penulis naskah pidato Bung Karno. Di kantor redaksi koran Harian Rakjat Njoto menulis editorial, pojok atau kolom Catatan Seorang Publisis tempat dia menggunakan nama pena Iramani.

Saat terjadi polemik mengenai Soekarnoisme antara Merdeka melawan Harian Rakjat (Koran resmi PKI), Njotolah yang menulis seluruh polemik itu dengan cemerlang. Para pengamat sejarah pers nasional mencatat polemik antara harian Merdeka dan Harian Rakjat sebagai yang terbesar dalam sejarah. Kedua belah pihak yang berpolemik sama –sama membukukan jalannya pertarungan pena itu.

Kekuatan lain seorang Njoto adalah dayanya dalam melihat sisi baik seseorang. Pernah ia menyelamatkan Ernest Hemingway dari kutukan massa ketika ramai-ramai film Amerika diserang. Njoto menyembunyikan nama pengarang Amerika, pahlawan perang dunia II itu dari sebuah iklan film yang mencantumkan namanya. “Tidak ada yang buruk dari Hemingway karenanya ia pantas diselamatkan” kata Njoto saat itu.

Sekitar tahun 1950, para pelukis dan penulis kiri bertemu dengan Njoto. Mereka berdiskusi tentang peranan seni dalam perjuangan kelas. Njoto menganjurkan perpaduan antara tradisi besar realisme kritis dan romantisme untuk membuat kesenian yang menampilkan kenyataan sosial (realisme) menuju ke proses perubahan revolusioner (romantisme).

Piagam Lekra, juga Njoto yang menyusun. Dan Lekra menjadi begitu besar dan berpengaruh di bidang kebudayaan! Selama kurun waktu 15 tahun (1950-1965), Lekra telah menorehkan sejarah kebudayaan di Indonesia. Salah satu prestasi Lekra yang mencengangkan adalah mampu membawa kebudayaan sampai ke kampung-kampung paling kumuh dan menyatu dengan aktivitas keseharian rakyat. Dalam Kongres Lekra di Solo, Njoto menyatakan: “Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”. Demikianlah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, yang menghormati dan menghargai pikiran-pikiran Nyoto kemudian juga menyatakan: “Kesalahan politik adalah lebih jahat daripada kesalahan artistik”.

Njoto dengan begitu mempunyai daya tarik sendiri bagi kalangan intelektual dan pekerja seni di Indonesia. Orang-orang besar berkerumun di sekitar Njoto: Affandi, Soedjojono, Rivai Apin, termasuk Pramoedya Ananta Toer. Bahkan ada kelakar waktu itu: andai saja Chairil Anwar panjang umurnya dan bertemu Njoto, dia akan masuk Lekra juga. Karena menurut cerita, setelah menyerahkan sajak ‘Aku’nya kepada pusat kebudayaan Jepang,

Chairil Anwar dipanggil Kempeitai: diinterogasi, disiksa, disuruh minum air seember dan perutnya diinjak-injak. Jepang menganggap sajak Chairil sebagai wakil dari pernyataan sikap ingin bebas dari Indonesia. Ia seorang patriot. Ke mana lagi seniman patriot itu akan bergerak kalau tidak bergabung dengan Lekra?

Lagi, Pramoedya Ananta Toer yang pernah mendapat perlakuan sangat buruk oleh militer: semua kertas kerja, naskah-naskah karya, juga perpustakaannya dihancurkan massa yang menyerbu, merampok apa saja yang ada sampai-sampai pohon mangga yang sedang sarat berbuah digoncang buahnya, bahkan tak ada satu cangkir atau piring tersisa; dan rumah Pram pun tinggal bolongan kosong blong, pun menyatakan: “Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak. Justru yang teringat adalah satu kalimat dari Njoto: “Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup rendah dan memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya”. Ia juga teringat pada kata-kata Njoto yang lain: “Kalau kau mendapatkan kebiadaban, jangan beri kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan sebagai belasan.”

Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh PKI, Njoto juga dikenal sebagai seorang seniman musik. Tidak jarang ia mengisi acara musik lepas senja di studio RRI bersama Adikarso dan Bing Slamet. Ia pun ikut terlibat dalam pembicaraan tentang Genjer-Genjer. Naluri musikalitas Njoto terucap dalam kata-kata yang bernada meramal: “Lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional!” Tidak meleset memang karena sekitar setahun kemudian Genjer-Genjer telah terdengar di Jakarta baik melalui siaran RRI maupun tayangan TVRI dan dikenal sebagai lagu rakyat Banyuwangi aransemen oleh M. Arief, yang sementara itu telah bekerja di Seksi Musik TVRI Jakarta. Piringan hitam Genjer-Genjer kemudian memasuki pasaran dinyanyikan oleh Bing Slamet dalam lirik Jawa dan bukan Jawa-Banyuwangi. Seorang fotografer istana (yang meliput acara–acara kenegaraan Bung Karno pada masa itu) kerap berada di ruang tamu rumah Njoto di Jalan Malang, Menteng, Jakarta Pusat: “Pada hari-hari tertentu saya biasa datang ke rumah Njoto untuk meminjam buku atau menonton Njoto bermain musik dengan teman-teman masa mudanya, antara lain Jack Lesmana.”

Njoto dengan begitu memikat buat siapa saja. Kalau di istana negara berlangsung resepsi dan Bung Karno menutup acara dengan ber-lenso, Njoto meninggalkan para menteri yang duduk di sebelahnya dan menyelusup di antara para artis. Di tengah-tengah para penabuh alat-alat musik, dialah yang memainkan keyboard dan turut mengiringi penyanyi hebat kala itu seperti Titiek Puspa dan Fetti Fatimah.

Sebagai intelektual (Marxist), Njoto juga tak perlu diragukan. Joesoef Issack, pendiri Hasta Mitra, memandang Njoto memiliki kelebihan dan keistimewaan tersendiri dari semua tokoh PKI yang ada. Ia adalah seorang pemikir intelektual tetapi tak pernah menunjukkan dirinya melebihi segala-galanya. Komitmennya pada semangat kerakyatan dapat dilihat dari kesederhanaan hidupnya. Pandangannya mengenai realitas tercermin dari pola-pikirnya yang mudah dipahami setiap kalangan masyarakat. Hal lain yang dikagumi Joesoef Issack dari Njoto adalah kehebatannya dalam mengemas gaya bahasa Bung Karno, menempatkan diri dalam pikirannya bahkan pikiran politiknya. Selain itu ia juga sanggup mengkreatifkan bahasa Bung Karno, mengembangkan pikiran–pikiran maju

berdasarkan pikiran Bung Karno itu sendiri. Dengan begitu ia berusaha menempatkan diri sebagai pemikir yang tidak apriori ke kiri tetapi juga sama sekali bukan ke garis kanan. Itulah keistimewaan Njoto. Karenanya Joesoef dapat mengerti bila Bung Karno pernah menjulukinya sebagai Marhaenis Sejati, suatu julukan yang pada zamannya tak pernah diberikan kepada tokoh-tokoh partai lainnya. Tesis April-nya Lenin (tentang tugas – tugas proletariat di dalam revolusi sekarang) pun diterjemahkan Njoto dan diterbitkan oleh Jajasan Pembaruan Djakarta pada 1957.

Njoto juga pernah memberikan kuliah mengenai berbagai segi Marxisme di depan para siswa dan undangan di Universitas Rakyat dan Universitas Indonesia. Dalam rangka ulang tahun Harian Rakjat yang ke XII, empat paparan kuliahnya yakni: Marxisme Sebagai Ilmu, Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis, dan Sosialisme Indonesia pun dibukukan dengan judul Marxisme: Ilmu dan Amalnya. Usaha membukukan empat paparan kuliah Njoto tadi juga didorong oleh permintaan–pemintaan serta pertanyaan–pertanyaan yang diterima Dewan Redaksi Harian Rakjat tentang berbagai permasalahan marxisme.

***

Nyoto sebagai intelektual yang cerdas, dan juga disegani dan dikenal luas di kalangan pekerja seni jelas menunjukkan pada kita bagaimana kita para pekerja seni, budaya, ilmuwan dan intelektual pada umumnya tidak boleh melupakan kesadaran politik.

“Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”. ***

Data tulisan dikutip dari berbagai sumber, antara lain:

  1. Kumpulan Pidato Bung Karno; Revolusi Belum Selesai
  2. LAYANG - LAYANG ITU TAK LAGI MENGEPAK TINGGI – TINGGI Novel Pertama Martin Aleida. Penerbit Emansipasi Damar Warga 1999.
  3. Marxisme Ilmu dan Amalnya; Njoto. Terbitan Harian Rakjat