Showing posts with label Profile Pekerja Seni. Show all posts
Showing posts with label Profile Pekerja Seni. Show all posts

Sekilas Tentang Rizal Abdulhadi


Musisi muda yang lahir di Majalengka, Jawa Barat tahun 1988 ini memilih musik folk balada sebagai genre warna musiknya setelah bermacam macam genre musik ia tekuni, mulai dari pop, rock, punk, hiphop bahkan metal sekalipun.

Menurut dia dengan genre folk ballad ini dia berharap karya nya bisa lebih mudah di akses oleh semua golongan dan bisa di nikmati sepanjang jaman karna isi dari lagu nya bermuatan sosial mengarah pada perubahan sosial seperti apa yang di cita citakanya dengan balutan sastra yang kental dalam lirik untuk memperindah pengkaryaan nya.

Dalam dunia musik Rizal Abdulhadi memandang bahwa musik harus mengabdi pada revolusi yang belum selesai seperti apa yang dia ilhami dari perkataan presiden pertama Ir. Soekarno ’ ...sebab revolusi indonesia adalah revolusi rakjat, revolusi massa, sedang musik harus di jadikan alat untuk mengabdi pada revolusi. Prinsip musik untuk revolusi ini harus disadari sepenuhnya oleh setiap seniman seniwati musik indonesia yang sadar...’

Di akhir tahun 2006 Rizal Abdulhadi memilih bernyanyi solo sambil memainkan gitar dan harmonika. Tidak hanya itu, kadang di beberepa pertunjukan dia memainkan apapun yang ada disekitarnya dipadukan dengan vokal khas nya, termasuk alat dapur sekalipun.

Kecintaannya terhadap seni tradisi terlihat jelas dalam beberapa konser yang dilakoninya yang tidak meninggalkan alat musik etnis nusantara. Dia piawai memainkan suling, kendang, karinding, genggong, saluang, celempung, awi go’ong, dan lainnya.

”Tujuan saya memadukan instrumen etnis merupakan upaya mempertahankan budaya tradisi yang semakin memudar dan menunjukan pada orang luar bahwa musik tradisi indonesia tak kalah hebatnya,” katanya suatu hari.

Akhir 2007 sembilan lagu dalam album indie label yang ditelurkannya cukup menarik perhatian. Pertunjukan dari panggung ke panggung mulai ramai, dan pada akhir 2008 akhir album keduanya berhasil disebar, walau hanya di kalangan sendiri.

Tidak maksimalnya sebaran album kedua itu lantaran saat itu pemusik yang super kreatif ini sibuk dengan konser gerilya-nya yang betajuk ’Konser Pembebasan’ desa ke desa di Jawa Barat. Memasuki 2009 konser gerilya-nya meluas hingga seluruh Jawa, Bali hingga Lombok.

Ibarat menanam padi, Rizal-pun memanennya. Serangkaian event besar mulai mengajak Rizal turut mengisi acara, salahsatunya di Bambu Nusantara World Music Festival 2, 3 dan 4, Braga Festival Bandung, Redneck 3 dan 4 di Bandung, Konser Hari Musik Balada Internasional dan lainnya bahkan di tahun 2008 bersama grupnya, dia menjawarai ’Festival Musik Kolaborasi Etnik Kontemporer’ di Garut mewakili Kabupaten Majalengka.

Selain aktif membangun komunitas-komunitas kesenian dan kebudayaan di kampungnya sendiri dan beberapa daerah lain, dia juga aktif dalam organisasi kerakyatan. Ketika kuliah dia menjadi aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan hingga sekarang bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Di pertengahan 2009 sampai sekarang dia menetap di ibu kota untuk memperluas jaringan musik nya dan tuntutan bermusik secara nasional dengan harus mulai menggarap album secara serius dengan distribusi berskala nasional dan internasional.

Inspirasi dan kultur hiruk pikuk metropolitan pun menambah kekayaan genre musik rizal abdulhadi dengan mulai mengacak dan mencomot comot genre lain untuk di kolaborasikan dengan musik folk khas nya, semisal mulai memadukan unsur electronic, blues, jazz, reggae dan lainnya.

Dan di tahun ini Rizal Abdulhadi mengeluarkan mini album yang berisi 5 lagu yang di launching di newseum indonesia pada akhir agustus kemarin. Mini album ini sebagai awal sebelum full albumnya di luncurkan yang rencana nya pada akhir tahun 2010 ini di jakarta.

Organisasi / sanggar yang pernah di ikuti dan di buat nya:
- Sanggar Sastra untuk haur koneng – tahun 2003
- Sanggar Panggung Pembebasan – 2004
- Sanggar Hujan Keruh – 2005
- Ganesha Pecinta Alam (GANAPALA) – 2003
- Remaja Seni Ganesha – 2003
- Jatiwangi Art Factory – 2006
- Konser Kampung – 2007
- The Mystical Earth – 2008
- The Barudak Sayah (digital Art) – 2007
- Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) jawa barat– 2006
- Jaringan Kerja kebudayaan rakyat (JAKER) bandung – 2007
- Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) – 2007
- Majalengka Center – 2008
- Balada bandung – 2009
- Konser Pembebasan – 2009
- Gerakan Musik Indie – 2009
- Posse the exhibition room – 2009
- Gandrung Percussion – 2009
- Teater TeMA – 2009
- Ngawangangkong di bale bengong – 2009
- Majalengka Culture Center – 2010
- Kandang konser – 2010
- Folklub – 2010
- Pengurus Pusat JAKER – 2009 hingga sekarang

Rizal Abdulhadi
www.myspace.com/lagurizalabdulhadi
www.rizalabdulhadi.multiply.com

Ki Suhardi


Kelahiran Bandung 20 Februari 1956, bermukim di Jln Tebet Timur Dalam XI No. 20 Tebet Jakarta Selatan. Pada tahun 1980 belajar ke seorang pelukis ekspresionis Jeihan Sukmantoro lalu bergabung dengan Komunitas seni independent Gerbong dan mulai konsisten berkarya juga berpameran.
Email Address : kisuhardi@kisuhardi.com
Site : www.kisuhardi.com/

Pengalaman Pameran

1981 – 1982 : Pameran bersama SSB (Studio Seni Rupa Bandung) di GGM Jl Merdeka Bandung.
1996 : Pameran bersama di Studio Tatang Ganar Cigadung Bandung
1997 : Ikut Jambore seni rupa di Pasar Seni Ancol – Jakarta
1997 : Pameran bersama Gerbong di Mall Matahari Tasikmalaya.
1998 : Pameran bersama 'Pelukis Jalanan 3 Kota' (Bandung-Jogja-Solo)
di Mall Taman Anggrek Jakarta.
1999 : Pameran berdua dengan Ating Sudirman 'Dialog Rakyat' di gedung YPK Naripan Bandung.
1999 : Pameran Tunggal Memperingati Tragedi Trisakti 12 Mei di Selasar Trisakti Jakarta.
2000 : Pameran bersama Gerbong dan Jaker 'Dasar Babi-Babi' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2000 : Pameran bersama 'Indonesian Outlook' di Sahid Jaya Hotel.
2001 : Pameran bersama Gerbong seni rupa pertunjukan 'Sidang Para Tengkulak' di Jln Dadali, Unjani, Cibeureum, Unisba, Paspati (Cihampelas), STNB, Unpad Jatinangor Bukit Tunggul Bandung.
2001 : Pameran bersama Gerbong Seni Rupa Pertunjukan 'Stop War' di Plaza Parahiyangan Bandung.
2001 : Workshop & Pameran Grafis 'Vla Print Making' di Galeri Sumardji ITB Bandung.
2001 : Menggelar Lukisan di Acara Asia Pasific Conference/Konferensi Asia Pasifik pada 6 Juni 2001
di Sawangan Bogor.
2002 : Pameran Memperingati Hari Buruh Internasional di Thailand.
2002 : Pameran bersama Peringatan Tragedi 27 Juli di Gedung PDI Jln Diponegoro Jakarta Pusat.
2002 : Workshop Seni Rupa Gerbong di Jl Dago Bandung.
2003 : Pameran Seni Rupa Gerbong 'Transisi' di Galeri Kita Jln RE Martadinata Bandung.
2003 : Pameran Kilas Balik 2002 – 2003 di Galeri Kita Jl RE Martadinata Bandung.
2004 : Pameran bersama Gerbong 'Ekologi Demokrasi' di Rumah Seni Ki Suhardi Jakarta Selatan.
2004 : Pameran bersama Menyambut 'KAA In Memorial' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2005 : Pameran Tunggal di Galeri 600 (Jenny Barton Gallery) Washington
Street Willmington Delaware Amerika Serikat.
2005 : Pameran Memperingati 100 Hari Tsunami di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta.
2005 : Pameran bersama Gerbong dan Fok'r (Forum Kreatifitas) Seni Rupa

& Fotografi '8 Kebebasan' di Rumah Seni Ki Suhardi Tebet Jakarta

2005 : Pameran bersama menyambut 50 Tahun KAA '50 x 50' di Galeri
Kita Jln RE Martadinata Bandung
2006 : Pameran bersama Gerbong 'Jahanam Jahanam' di Galerri Pitoe
Jogja dan Balai Sudjatmoko Solo.
2006 : Pameran bersama 'Bandung Art Festival' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2006 : Pameran bersama Gerbong di Braga City Walk Jln Braga Bandung.
2007 : Workshop dan Pameran Seni Rupa Propaganda, bersama Jaker,

Indie Art, IGJ dan Galeri Publik di Jln Diponegoro Jakarta Pusat.

Karya-karya

  • Rakyat Aparat Konglomerat – Oil on Canvas – 90x90 cm
  • Dialog – Oil on Canvas – 100x100 cm
  • Diapun Punya Mimpi – Oil on Canvas – 100x83 cm
  • Doa untuk Damai – Oil on Canvas – 69x58 cm
  • Egosentris – Oil on Canvas – 70x64 cm
  • Ghandi – Oil on Canvas – 80x70 cm
  • Hama – Oil on Canvas – 110x100 cm
  • Hidup = Berjuang – Oil on Canvas – 200x146 cm
  • KorLap – Oil on Canvas – 90x70 cm
  • Lacur – Oil on Canvas – 100x90 cm
  • Menanti Keajaiban – Oil on Canvas – 100x80 cm
  • Mimpi Buruk Marsinah – Oil on Canvas – 90x90 cm
  • Nyala Api – Oil on Canvas – 95x70 cm
  • Padamu Negeri – Oil on Canvas – 90x90 cm
  • Pendapatan Kosong – Oil on Canvas – 70x60 cm
  • Pengemis – Oil on Canvas – 90x65,5 cm
  • Perjalanan – Oil on canvas – 104x73 cm
  • Pesta Para Tengkulak - Oil on Canvas – 100x100 cm
  • Populasipolusi – Oil on Canvas – 69x63 cm
  • Punkers – Oil on Canvas – 95x75 cm
  • Punk Music Player – Oil on Canvas – 70x70 cm
  • Trafficking – Oil on Canvas – 90x60 cm
  • Yang Berjalan di Reruntuhan – Oil on Canvas – 40x40 cm

Johnsony Marhasak Lumbantobing

Panggilan : John Tobing
Tempat/Tgl Lahir : Binjai (Sumatera Utara), 01 Desember 1965
Pekerjaan (sekarang) : Wiraswasta
Pendidikan Akhir : S1 (Filsafat UGM Yogyakarta)
Mulai Mencipta Lagu : Di Tanjungkarang (Bandarlampung) tahun 1977
Jumlah lagu yang telah dicipta sekitar 100 –an (jumlah pasti agak sulit karena ada banyak lagu yang tidak ter-file, yang diingat oleh orang lain, padahal saya sendiri sudah lupa)
Jenis Lagu : Anak-anak, Pop, Rock, Pop Ballada, Perjuangan.


BEBERAPA JUDUL LAGU KRITIK SOCIAL dan PERJUANGAN:

No.

Judul Lagu

Tempat/ Tahun Pembuatan

Syair – Lagu Ciptaan

1

Damailah

Yogya, Maret 1987

Syair :

FX. Rudy Gunawan
Lagu : John Tobing

2

Perdamaian

Yogya, Maret 1987

Syair :

FX. Rudy Gunawan
Lagu : John Tobing

3

Damai Rimbaku

Yogya, Mei 1987

Syair & Lagu :

John Tobing

4

Seorang Lelaki

Yogya, April 1988

Syair : Yayan Sopyan

Lagu : JohnTobing

5

Perkisahan Luka

Yogya, 12 Agustus 1988

Syair : Yayan Sopyan

Lagu : John Tobing

6

Soeharto Asoe

Yogya, April 1990

Syair : Chaidir

Lagu : John Tobing

7

Satu Kata

Yogya, 5 Mei 1990

Syair & Lagu :

John Tobing

8

Hati Nurani

Yogya, September 1990

Syair : (potongan puisi angkatan ’66)

Lagu : John Tobing

9

Luka Anak Negeri

Yogya, Nopember 1990

Lagu : John Tobing

10

Api Kesaksian

Yogya, Nopember 1990

Syair & Lagu :

John Tobing

11

Bangkit

Yogya, 1991

Syair :

Dadang Juliantara
Lagu : John Tobing & Weby Warouw

12

Cadas

Yogya, Oktober 1991

Syair :

Agung Wibawanto
Lagu : John Tobing

13

Hymne Darah Juang

Yogya, 1991

Syair :

Dadang Juliantara,
Budiman Sujatmiko
Lagu : John Tobing

14

Mars Soempah Kita

Yogya, 26 Oktober 1991

Syair & Lagu :

John Tobing

15

Mogok Makan

Yogya, 13 Nopember 1991

Syair & Lagu :

John Tobing

No.

Judul Lagu

Tempat/ Tahun Pembuatan

Syair – Lagu Ciptaan

16

Yang Kesepian

Yogya, April 1992

Syair : Waluyo Jati

Lagu : John Tobing

17

Doa

Yogya, April 1992

Syair & Lagu : John Tobing

18

Bangkit Dari Kolong (Pak Dul)

Yogya, 21 Juli 1992

Syair : Agung Wibawanto

Lagu : John Tobing

19

Seorang Ibu

Yogya, 23 Agustus 1992

Syair : Waluyo Jati

Lagu : John Tobing

20

Aku Saksi Hidup

Yogya, 28 Oktober 1992

Syair : Agung Wibawanto

Lagu : John Tobing

21

Naruda Bira

Yogya, 11 Nopember 1992

Syair : Subramaran Anugrah

Lagu : John Tobing

22

Makin Banyak Korban

Yogya, 29 Agustus 1993

Syair & Lagu : John Tobing

23

Sengi

Yogya, 13 Oktober 1993

Syair & Lagu : John Tobing

24

Citayam

Yogya, Nopember 1993

Syair : Widi

Lagu : John Tobing

25

Fajar Merah Esok Milikmu

Yogya, 14 Agustus 1994

Syair : Weby Warouw

Lagu : John Tobing

26

O Rai Timor

Depok, 14 Nopember 1994

Syair : Hermeningardo

Lagu : John Tobing


Sejarah Lahirnya Beberapa Lagu Penting

1. Seoharto Asoe (Yogya, April 1990)

Waktu itu di Demangan, secretariat Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta KM – UGM, Saya dan seorang kawan aktifis KM UGM Chaidir (sekarang wartawan Lampung Post) membicarakan soal kebencian kami terhadap Soeharto (Presiden RI) lah yang membuat kami menjadi aktivis. Soeharto bengis sebagai otak pembunuh pada peristiwa ’65, dictator yang harus ditumbangkan. Chaidir menyarankan untuk membuat lagu berirama Reggae agar menjadi lagu yang enak dinyanyikan oleh kelompok pemuda mahasiswa yang pragmatis, tapi syairnya sangat provokatif.

2. Satu Kata (Yogya, 5 Mei 1990)

Waktu itu, beberapa aktivis ITB baru saja dipenjara gara-gara mendemo Menteri Dalam Negeri, Jend (pur) Rudini yang diundang rector ITB. Mereka Cuma mendemo tetapi kemudian dipenjara dan di DO dari kampus ITB. Saya merasa marah dan ingin memprotes sekaligus membangkitkan semangat kawan-kawan aktifis supaya tidak takut dan jera berdemonstrasi. Saya jadi teringat puisi Wiji Thukul yang memang sudah sering membangkitkan semangat perjuangan yang berjudul: LAWAN!

Awalnya lagu ini untuk kawan-kawan aktifis ITB yang diperlakukan tidak adil itu. Mereka adalah: Rahman, Enin, Amarsyah, Ucok (alm. Arnold Purba), Denci dan Bambang Sugianto. Belakangan, karena lagu ini terasa jadi eksklusif (karena Cuma memuat nama kawan-kawan ITB) syairnya saya ubah. Nama kawan-kawan dalam lagu tersebut diganti: Buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota.

3. Cadas (Yogya, Oktober 1991)

Saat itu kami para aktifis se-Indonesia merasakan sebuah duka. Anak dari seorang kawan kami aktifis, yang bagi saya dia lebih dari seorang aktifis tetapi seorang pejuang, meninggal dunia. Anak laki-laki tertuanya ini meninggal hanya karena menderita penyakit muntaber (kalau tidak lupa). Ayahnya, kawan kami, jarang ada bersma anak lelakinya karena terus bergerak, berjuang. Ibunya juga seorang aktifis yang bukan aktifis biasa. Karena perjuangan dan karena factor ekonomi seorang pejuang seperti mereka, menurut saya, anak laki-lakinya yang bernama CADAS tersebut akhirnya meninggal dunia. Saya mendiskusikannya dengan Agung Wibawanto (seorang aktifis KM UGM) yang kemudian menuliskan puisi berjudul CADAS. Agung memang seorang Penyair. Syair lagu ini berkisah tentang cerita tadi.

4. Hymne Darah Juang (Yogya, 1991)

Lagu ini diciptakan menjelang Kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) (bulannya lupa). Awalnya, saya merenungkan sebuah perjuangan bagi Indonesia. Bahwa perlu ada sebuah perjuangan yang serius dan terus menerus untuk menyejahterakan Indonesia. Sebab, sesungguhnya Indonesia ini negeri yang sangat kaya raya. Bumi, tanah-air dan udaranya, semua menghasilkan kekayaan. Tetapi, kenapa banyak rakyat terus menderita. Lalu saya mencoba menyenandungkan, membuat melodi dan lagu melalui petikan gitar, sebuah nuansa bunyi lagu yang menggambarkan keadaan tersebut. Setelah itu, saya mendatangi salah satu sahabat saya, Dadang Juliantara (sekarang Penasehat dan Tim Ahli Bupati Bantul). Dia seorang yang amat getol menulis. Saat itu kami tinggal bersama di sebuah kontrakan di daerah Pelem Kecut Yogyakarta, yang juga merupakan secretariat KM – UGM. Dadang membantu menuliskan syair untuk lagu tersebut. Lagu ini sering kami nyanyikan di secretariat.

Mendekati pelaksanaan Kongres FKMY, seorang kawan, Budiman Sujatmiko (sekarang Sekjen REPDEM), ikut merevisi sebuah kalimat dalam syair lagu itu.

Satu atau dua hari sebelum Kongres, lagu ini dipelajari dan dinyanyikan berulang-ulang oleh kawan-kawan anggota FKMY (UII, IAIN, UMY, ISI, JANABADRA, UGM).

Pada saat dilangsungkannya Kongres I FKMY, untuk pertama kalinya lagu ini dinyanyikan secara resmi dan massal.

5. Doa (Yogya, April 1992)

Lagu ini punya latar belakang terjadinya Peristiwa Santa Cruz Dilli, yaitu penembakan membabi buta yang dilakukan tentara Indonesia terhadap aktifis Timor Timur di pemakaman Santa Cruz. Seorang aktifis dari Malaysia, kawan kami yang bernama Kamal, ikut tertembak dan: Mati! Perasaan saya waktu itu bercampur marah, sedih, muak, benci tak keruan karena Kamal baru saja dari Yogya dan kami (saya dan dia) terlibat diskusi akrab cukup panjang. Kenapa seorang pejuang seperti Kamal-Kamal yang ditembaki tentara? Mereka bukan musuh negara apalagi musuh rakyat. Dalam menulis dan menciptakan lagu ini, air mata saya terus mengalir. Saya teringat kepada kawan-kawan saya yang lain, yang berjuang tanpa pamrih bahkan mengorbankan banyak hal termasuk kepentingan dan kesenangan pribadinya. Kenapa banyak orang tak mau mengerti, sadar, bangkit dan membela mereka? Kenapa malah ditembaki seolah nyawanya sang Pejuang tak berharga sama sekali?

Lagu ini diberi judul DOA, karena saya merasa sudah tak ada lagi yang bisa dan mau mendengar jeritan para pejuang tersebut.

6. O Rai Timor (Depok, 14 Nopember 1994)

Ketika berkunjung ke markas Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada Nopember 1994, saya bertemu dengan seorang aktifis Pejuang Kemerdekaan Timor Timur yang lari dari kejaran intel polisi dan tentara bernama Hermeningardo (Ardo). Kami berbincang dan berdiskusi tentang perjuangannya dan perjuangan kawan-kawan PRD sehingga barulah saya tahu bahwa dia termasuk kalangan Penyair di komunitasnya. Ardo rajin mencatat perjuangannya dengan kawan-kawannya dalam bentuk puisi dalam bahasa tetun (Timor Timur). Dia menunjukkan beberapa puisinya, menerjemahkan dan menceriterakan maknanya kepada saya. Saya tertarik dengan ceritera puisi-perjuangannya. Ada 2 (dua) puisinya yang sudah saya jadikan lagu. Salah satunya O RAI TIMOR. Puisi yang sudah saya jadikan lagu ini, menceriterakan, mirip dengan lagu DARAH JUANG, negeri Timor yang kaya dan indah tapi dijajah Indonesia dan tentara Soeharto. Puisi ini juga menghimbau dan berdoa kepada Tuhan agar perjuangan rakyat Timor direstui.

Lagu ini pernah saya nyanyikan di Perth, Australia Barat, pada sebuah kunjungan 1995, dihadapan komunitas masyarakat asli Timorleste dan pendukung kemerdekaan Timorleste. Khususnya masyarakat asli Timorleste, terharu dan menangis saat lagu ini saya nyanyikan.

Saya rindu berjumpa Ardo. Setelah negerinya merdeka dan dilanda kemelut seperti sekarang, entah dimana kini Ardo.

Keterangan

  • Banyak Lagu yang Syairnya ditulis oleh kawan-kawan lain, disebabkan oleh:

1. Saya merasa diri kurang pintar menyusun syair yang bagus.

2. Saya punya greget terhadap sesuatu dan sudah menyelesaikan sebuah lagu tanpa syair, sehingga saya meminta kawan lain menuliskan syair untuk sesuatu greget yang sudah selesai saya susun melodinya. Pada kasus ini contohnya adalah judul lagu DARAH JUANG.

3. Saya mengintip karya puisi beberapa kawan Penyair yang isinya menyentuh emosi saya, lalu saya jadikan sebuah lagu, dengan atau tanpa ijin dari kawan tersebut.

4. Beberapa kawan yang cukup baik menulis (syair) meminta dibuatkan lagu. Syair yang diberikannya kepada saya, kebetulan cukup mampu menyentuh emosi saya.

o Lagu terakhir yang diciptakan berjudul “TIADA JALAN” (lagu pop percintaan), 25 Juni 1997. Sejak itu sampai sekarang tidak pernah bikin lagu lagi karena: 1. merasa mubazir, tidak ada produser yang mau pakai; 2. tidak ada kawan yang serius minta dibuatkan lagu (Ketua AJI periode sebelum batas 2005, Edi Suprapto, pernah minta dibuatkan Mars dan Hymne Aliansi Jurnalis Independen, tapi tidak cukup serius); 3. sibuk dengan usaha lain/ cari makan untuk anak isteri.

o Pernah menjajakan lagu ke hampir seluruh produser di Jakarta (1993 – 1995) tapi karena kurang modal belum ada yang laku. Beberapa pihak yang sempat tertarik adalah HP Record (melalui Pak Awan Toha dan Herty Sitorus), Pay SLANK (sekarang sudah keluar dari SLANK).

o Beberapa lagu perjuangan sudah direkam dan dikasetkan oleh kawan-kawan PRD. Trims buat kawan-kawan PRD.

Pekanbaru, John Tobing - 7 Juni 2006

LONTAR Band


Akhir 1994

Adalah tiga orang yang membentuk kelompok musik kecil, yakni BimPet (nama panggilan Bimo Petrus) dan Babe (nama panggilan David Kris) memainkan gitar, lalu Jaka Sadewa sebagai penyanyinya. Kelompok musik tanpa nama ini lambat laun mulai membuat lagu, diantaranya; Anak Bangsa, Pasti Menang, Simarsi (nah..), Karna aku Cinta, Indonesia (C) Emas dan Mana Buku dan Guruku.

Februari 1995

Melalui saran Heru Krisdianto, koordinator Komite Solidaritas Mahasiswa Universitas Airlangga (sebuah organisasi gerakan mahasiswa di era tahun 1990-an), maka bergabunglah Chris (nama panggilan Christanto) sebagai drummer dan Inuk (nama panggilan Wisnu Wardhana) sebagai gitaris. Adapun mereka berdua adalah personil di Sianida band. Maka lengkaplah formasi kelompok musik ini, untuk semakin menegaskan visi dan misi kelompok musik ini.

Maret 1995

Pemberian nama pun diilhami dari nama sebuah bulletin KSM UNAIR yakni LONTAR. Nama LONTAR tak hanya bermakna pelontaran gagasan atau ide semata, namun dipahami sebagai daun siwalan yang konon berfungsi menjadi kertas tulis untuk menuangkan berbagai filosofi kehidupan manusia di masa lalu.[1] Maka LONTAR pun akan dipahami sebagai (1) media belajar bersama (melalui musik) agar mempersatukan pemikiran kritis, kesadaran baru, tindakan dan semangat melakukan perubahan mencapai cita-cita membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi. Karena itulah teks-teks LONTAR sarat akan tema kritis tentang hak asasi manusia, anti kekerasan/ diskriminasi/ rasisme, ajakan untuk perubahan menuju kehidupan bersama yang lebih baik. LONTAR merupakan contoh konkrit yang sangat peduli terhadap masalah-masalah tersebut.[2] Motivasi dan idealisme melalui kebebasan berekspresi dalam bermusik inilah merupakan pula bentuk kontra kultura yang dimunculkan LONTAR di masyarakat, sehingga sarat dengan lirik kritis.[3] Seiring dengan perkembangan social politik masyarakat kala itu.

April 1995

15 April 1995, pementasan LONTAR yang pertama kali pada panggung Malam Chairil Anwar yang digelar oleh Program Studi Sastra Indonesia FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Akhirnya disepakati bersama bahwa tanggal tersebut adalah hari kelahiran LONTAR.

Juni 1995

LONTAR melanjutkan aksi pentasnya di Musik Taman II FISIP UNAIR Surabaya. Kemudian memenuhi undangan tampil di acara Pentas Musik Dunia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Perancis di gedung CCF-Surabaya.

Pertengahan 1995

Lalu diundang tampil di acara Refleksi Kemerdekaan yang diadakan oleh Wiji Thukul dan Sanggar Suka Banjir-Solo. Berikut, Malam Kanvas Kemerdekaan yang digelar di pelataran pasar Simo oleh Sanggar Soeroboyo. Berlanjut dengan Pentas Seni untuk Tanah Rakyat, berkait dengan kasus perampasan tanah di desa Gedoro Gondang – Ngawi.

Akhir 1995

Memenuhi undangan tampil di Festival Kesenian Yogyakarta di Malioboro-Yogyakarta. Pula tampil diantara gemuruh aksi demonstrasi pada Pentas Seni Solidaritas untuk Kasus Penembakan Mahasiswa Ujung Pandang.

Awal 1996

Jaka Sadewa menyatakan keluar karena tuntutan hidup yang menuntutnya. Kemudian BimPet juga menyatakan tidak bisa aktif karena harus pindah kuliah ke Driyakarya-Jakarta, tapi dia masih selalu aktif mengikuti perkembangan LONTAR.

Maret 1996

LONTAR mulai merekrut Azh (nama panggilan Ashari), seorang penyanyi di sebuah kelompok musik rock di Unair. Kemudian tercatat tiga nama yang pernah menjadi pengisi posisi bass gitar yakni Ditto, Yayan dan Wicak. Namun ternyata ketiganya tak mampu untuk eksis berekspresi musik bersama LONTAR. Akhirnya posisi pembetot bass gitar, sekaligus posisi penyanyi utama dipegang oleh Azh.

Mei 1996

Formasi baru bersama Azh, mencatat berbagai pengalaman panggung diantaranya tampil di acara Gebyar Seni di Fakultas Kedokteran UNAIR, Musik Kontemporer di Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Peringatan Pembreidelan TEMPO-Detik-EDITOR di halaman Dewan Kesenian Surabaya, hingga meraih menjadi finalis pada festival Musik Rock se-Jatim di Kediri.

27 Juli 1996

Sebuah peristiwa kerusuhan politis terbesar sepanjang 30 tahun rezim Orde Baru berdiri, yang dikenal dengan Peristiwa Kudatuli - 27 Juli 1996. Peristiwa penghancuran demokrasi dan HAM oleh kesewenangan negara beserta militernya. LONTAR pun tertimpa kesewenangan negara kala itu. Babe ditangkap dengan cara penculikan oleh aparat militer. Dia mengalami penyiksaan dan penyekapan selama 2 (dua) minggu di markas militer. Setelah itu, dia ‘diserahkan’ kepada pihak kepolisian dengan tuduhan bahwa Babe (melalui aktifitas seninya) telah melakukan penghinaan dan menyebarkan kebencian terhadap pemerintahan yang syah, sesuai pasal Haatzai Artikelen dengan tuntutan hukuman minimal 5 tahun penjara. Namun hukum lalim kala itu tak cukup bukti dan Babe pun menjadi tahanan politik selama kurang lebih tujuh bulan. Namun berakibat LONTAR pun harus tercerai-berai dan vakum selama waktu yang tak menentu. Sekeluarnya dari penjara, Babe pun bergabung dengan PINUS band sekedar memenuhi hasrat musiknya.

Pertengahan 1997

Satu persatu personel LONTAR mulai bertemu muka, kemudian bergabung kembali dan bersamar nama menggunakan nama RIP (Rest In Peace). Namun kelompok musik ini gagal diterima publik musik, khususnya di Surabaya. RIP pun hanya bertahan tak lebih dari 2 bulan. Kemudian para personel LONTAR pun mengalami stagnasi kreatifitas bermusiknya.

September 1997

Para personel LONTAR bersama beberapa kawan musisi/ penyanyi lain diantaranya; Adit dari Pythagoras band; membentuk kelompok musik yang (secara terang-terangan) membawakan lagu-lagu picisan, bernama ArSIP (Arek FISIP). ArSIP mampu merebut publik musik tersendiri dan membuahkan kesuksesan dengan meraih predikat Band Favorit dan The Best Vocal pada Festival LUCKY STRIKE Back to Campuss, 21 September 1997. Namun semua itu ternyata memunculkan banyak suara kekecewaan dari para massa LONTAR.

Akhir 1997

LONTAR pun kembali menancapkan bendera di antara menjamurnya kelompok-kelompok musik underground. Gebrakan baru LONTAR ini ternyata tidak main-main. LONTAR pun segera menjadi salah satu bintang tamu pada Musik Farmasi ’97, selain diantaranya SLOWDEATH, KARPET, BLUEKHUTUQ dan PADI.

Desember 1997

Seiring gemuruh gelombang aksi demonstrasi mahasiswa menolak hasil PEMILU 1997. LONTAR menggarap album indie label pertamanya, di NATURAL Studio Record. Dana rekaman ini dibantu pula oleh kawan-kawan dari Kelompok Studi Universal (KSU) dan beberapa kaum agamawan (Romo/ Pastor) di Surabaya.

Maret 1998

LONTAR menerima kabar buruk dari berbagai media cetak dan elektronik yakni Bimpet dinyatakan sebagai Orang Hilang, atau terkait dengan kasus penculikan mahasiswa yang dilakukan aparat negara untuk membendung aksi demonstrasi mahasiswa kala itu.

April 1998

LONTAR memberanikan untuk merilis-edar 200 keping album indie pertamanya yang bertajuk; MARAH. Titel album ini diilhami dari semakin besarnya gelombang kemarahan rakyat pada para penguasa kala itu yang kejam dan korup. Adapun album yang terjual habis melalui jaringan kawan-kawan di berbagai kota tersebut berisi 8 lagu yakni;

1. Negeri Serdadu

2. Simarsi (Nah..)

3. Bosan

4. Marah

5. Mana Buku dan Guru-ku

6. Anak bangsa

7. Tunjukkan Rasa

8. Dunia damai.

Pertengahan 1998

Tibalah pertengahan Mei 1998, kala usai tergulingnya kekuasaan Soeharto oleh desakan tuntutan rakyat seluruh negeri ini. Pada panggung-panggung ‘musik reformasi’, LONTAR, melalui lagu-lagunya kian menjadi penyemangat perjuangan rakyat. Dimulai pada Pentas Musik Pro Reformasi Total dan Damai di Universitas Tujuh Belas Agustus.[4] Gebyar Seni Reformasi di Institute Adhi Tama Surabaya (ITATS), Pentas Reform-Musik di UK PETRA, Konser Amal Reformasi di kampus STIESIA Surabaya, Musik Anti Kekerasan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Musik Sosial dan Anti Kekerasan di IKIP Surabaya, Musik Anti Diskriminasi di FISIPOL UGM Yogyakarta.

Akhir 1998

Menjadi Bintang Tamu Pentas Musik Alternative di FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Kemudian kembali menjadi Bintang Tamu pada acara Sunday Morning Music di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Disusul dengan penampilan pada Musik Out-door yang diselenggarakan oleh BATAS entertainment di Yogyakarta. Lalu membikin duo band pada Konser Sumpah Pemuda di Gedung Serba Guna Unversitas Airlangga Surabaya bersama METAL JOWO.

Sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya, bahwa sejarah perjuangan rakyat telah mencatat bahwa salah satu lagu LONTAR karya Babe (David Kris) berjudul Pasti Menang dinyatakan menjadi salah satu lagu yang turut menyemangati gemuruh aksi reformasi 1998. Lagu tersebut kini pun telah disimpan sebagai dokumen reformasi oleh pihak LIPI.[5]

Tahun 1999

April : Tampil sebagai bintang tamu pada Pentas Musik ASMI yang digelar oleh Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia di Gelora Pantjasila Surabaya.

Juli : Tampil sebagai bintang tamu pada Festival Band Antar-Pelajar yang digelar oleh Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Agustus : Tampil sebagai undangan tamu pada Parade Musik Kemerdekaan yang digelar oleh Dewan Kesenian Surabaya.

November : Tampil sebagai undangan dalam Gelar Seni Anak Jalanan yang diadakan di IKIP Negeri Surabaya.

Desember : Tampil sebagai undangan tamu pada Musik Kemanusiaan peringatan Hari HAM Sedunia yang diadakan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tahun 2000

Februari : Tampil sebagai undangan tamu dalam Pentas Musik Perdamaian di Semarang.

April : Tampil sebagai bintang tamu dalam Gebyar Musik Anak Negeri di Lakarsantri-Surabaya.

Mei : Tampil sebagai bintang tamu dalam Gebyar Musik Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Juni : Mempersiapkan materi dan proses penggarapan album II.
Juli : Rekaman album indie-label kedua di Natural Studio Record Surabaya.

: Tampil sebagai undangan pada Malam Renungan Peristiwa 27 Juli di pelataran Balai Pemuda Surabaya.

Oktober : Rilis edar album II bertitel SETENGAH TIANG Untuk DEMOKRASI

sebanyak 500 keping kaset, yang masih diproduksi secara indie label.
: Lagu-lagu di album II tersebut adalah;

1. KKN-nya KKN Bentrok (Anti Fasis)

2. Testimoni

3. Kekuatan Rakyat

4. Revolusi

5. K.P.H.B (Kaum Perempuan Hindia Belanda)

6. Karna Aku Cinta

7. Apa Guna

8. Bentrok (Anti Fasis)

Kemudian melakukan distribusi dan promo kaset ke berbagai kota besar antara lain; Surabaya, Jakarta, Yogya, Solo, Bandung, Bali, dll.

Tahun 2001

Januari : Inuk menyatakan bahwa tidak bisa aktif bermusik lagi dalam LONTAR karena sesuatu tuntutan hidup untuk bernafkah.
Tampil bintang tamu dalam Parade Musik Kampus yang diadakan oleh Fak. Ekonomi Wijaya Kusuma Surabaya.

Februari : Tampil sebagai undangan tamu pada Parade Musik Unitomo, yang diadakan oleh Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Maret : Tampil sebagai bintang tamu bersama POWER METAL; dalam acara Malam Dies Natalis Univ. Airlangga Surabaya.

April : Tampil mendukung perjuangan Front Reformasi Total (FRT) yang mengangkat isu Anti Orde Baru, digelar di halaman DPRD II Surabaya.

: Tampil sebagai undangan tamu dalam Musik Rekonsiliasi sebagai acara amal untuk korban kerusuhan Sampit, yang digelar di pelataran DPRD II Surabaya.

: Tampil sebagai undangan tamu dalam Seni Untuk Demokrasi yang digelar oleh FISIP Unair Surabaya.

: Tampil sebagai bintang tamu dalam Star Mild Concert di Fak. Sastra Unair Surabaya.

: Tampil sebagai undangan tamu dalam Pentas Musik Peringatan 21 Mei, di pelataran Balai Pemuda Surabaya.

Agustus : Tampil sebagai bintang tamu dalam GEMPITA 2001 yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana- Bali.

September : Tampil sebagai bintang tamu dalam Open Air 2001 yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UNISDA – Lamongan.

: Tampil sebagai bintang tamu dalam Panggung Kesenian Buruh yang digelar di Sidoarjo.

Oktober : Tampil sebagai band undangan dalam Refleksi Soempah Pemoeda yang diadakan di lapangan lokalisasi pelacuran Bangunsari-Surabaya.

Tahun 2002

Maret : Tampil sebagai duta kesenian dari Univ. Airlangga di pentas seni dalam rangka Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XV 2002 yang diselenggarakan di Universitas Airlangga-Surabaya.

April : Tampil sebagai undangan tamu pada Peringatan Peristiwa Penculikan Aktivis yang digelar di halaman Balai Pemuda Surabaya yang diselenggarakan oleh INSPIRASI dan KONTRAS.

Juni : Tampil sebagai bintang tamu pada pentas seni Indonesian ‘s People Forum di Nusa Dua-Bali.

: Tampil sebagai bintang tamu dalam acara A MILD LIVE WITH ACOUSTIC yangdiadakan oleh Badan Semi Otonom Musik Fakultas Sastra Univ. Airlangga.-Surabaya.

Agusutus : Tampil sebagai undangan tamu di Aula Pastoran Yogyakarta dalam acara Peringatan Serikat Pengamen se-Indonesia.

Awal Tahun 2003

LONTAR menjalin kerjasama dengan seseorang yang sangat simpati dan peduli dengan aktifitas bermusik LONTAR. Kerjasama ini adalah untuk penggarapan album. Dalam kerjasama penggarapan album III, LONTAR banyak didampingi dan dibantu oleh Jeffar Lumban Gaol, penata musik lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Jeffar adalah pula seorang yang punya andil besar dalam perkembangan LONTAR selama dan pasca album III. Rencananya album III ini dikerjakan di Jakarta, tetapi memperhitungkan dana dan aktifitas pekerjaan para personil LONTAR maka dilakukan di Surabaya.

Setelah mendengar kabar bahwa hendak LONTAR menggarap album III, Inuk kembali beraktiftas bermusik bersama LONTAR,

Pertengahan Tahun 2003

Penggarapan album III di Nada Musika Studio Record. Penggarapan album III ini banyak dibantu oleh kawan-kawan, antara lain: Nana (back vocal H9 band), Aline (vokal), Putri (vocal), Johan (bassist Devadata), Hot Torang (gitaris Bluekhutuq), Plenky (vokalis FreeCell), dan Inyo (vocal). Pula termasuk melibatkan pengisian suara; Rm. Sandyawan, dan (Alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lagu-lagu yang digarap di album III tersebut adalah;

1. Senjata Bentrok (Anti Fasis)

2. Darah Juang

3. Maafkan Kami

4. Yang Hilang

5. Indonesia Cemas

6. Indah

7. Testimoni

8. KKN-nya KKN

Akhir Tahun 2003

Rilis-edar album III LONTAR bertajuk: Indonesia, Siapa Yang Punya…? Album yang dicetak 5000 kaset ini mengadakan kontrak Titip Jual dengan pihak Satria Kurnia Irama (SKI) dan telah memiliki hak ijin edar resmi/legal dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) untuk diperdagangkan di seluruh wilayah Indonesia.

LONTAR pun juga masih memnuhi undangan tampil sebagai bintang tamu diberbagai acara, antara lain: Pentas Peringatan Reformasi di Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Kilas Balik Rock Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, tampil bersama band punk dari Jakarta:MARGINAL, dan tampil dalam Gelar Seni Peringatan Ham Sedunia di Universitas Airlangga Surabaya.

Tahun 2004

LONTAR mengalami problema bahwa kedua personnya; Inuk dan Azh hendak menyatakan tidak bisa aktif lagi. Maka LONTAR pun menjadi rada vakum. Hanya satu penampilan LONTAR yakni di bulan Juli dalam Peringatan KUDATULI di Balai Pemuda Surabaya. Kemudian pada Konser Amal Keprihatinan Bom Kuningan, bertempat di Taman Bungkul Surabaya, LONTAR menjadi bintang tamu berikut dengan BOOMERANG. Hingga akhir tahunnya di penghujung tahun 2004, Azh dengan Inuk akhirnya mengundurkan diri karena kesibukan kerja dan keluarga mereka.

Awal Tahun 2005

LONTAR kembali memulai aktifitas bermusiknya dengan formasi baru, yakni dengan bergabungnya; Gerson sebagai pemain bass sekaligus backing vokal, adapun dia adalah musisii dari band hardcore; Terrorist dan Human Corruption. Lalu Jaka Sadewa yang kembali memegang posisi vokal (setelah lebih kurang 10 tahun tidak beraktifitas bersama LONTAR). Kembali LONTAR menjadi bintang tamu bersama SUPERMAN IS DEAD, dalam A MILD Music Show, di Colour Cafe n Pub Surabaya.

4 Mei 2005

LONTAR menggelar peringatan ulang tahun di usia yang ke-10. Tepatnya satu dasawarsa LONTAR. Peringatan ini diwujudkan dalam lomba band antar pelajar bertajuk TANDING MUSIK KRITIS, memperebutkan trophy Walikota Surabaya dan trophy Gubenur Jawa Timur, bertempat di Taman Remaja Surabaya. Lomba band yang diikuti oleh 47 band muda se-Jawa Timur ini, akhirnya memunculkan 6 (enam) juara band muda, yang berhasil meraih predikat terbaik.

17 Agustus 2005

Djarum Super mengadakan Gegap Musik Kemerdekaan, bertempat di Balai Pemuda Surabaya. LONTAR pun menjadi salah satu bintang tamu, termasuk band-band besar Surabaya lainnya, seperti; NEMO, DE-SIX, BABYDOLL, dan SINNER.

Akhir Tahun 2005

Jaka Sadewa menyatakan tidak bisa lagi beraktifitas dengan LONTAR, karena kesibukannya mencari nafkah. LONTAR pun kembali harus sedikit bersusah payah untuk mencari vokalis baru.

Tahun 2006

LONTAR telah memperoleh vokalis baru bernama: Nyoman. Sehingga LONTAR bisa kembali tetap beraktifitas dengan rutinitas latihan musik sebagai proses penggarapan karya-karya untuk album IV nantinya. Sekaligus menunjuk RIGHTS Management sebagai pengatur managemen LONTAR, agar tertata kembali managemen group yang lebih baik. Berikut menunjuk MSP Lawyer sebagai kuasa hukum LONTAR. Formasi ini yang terhitung sebagai formasi ke-11 ini yakni: Nyoman (vokal), Babe (Gitar), Gerson (Bass), dan Chris (Drum).

LONTAR tampil sebagai bintang tamu bersama UNGU, untuk DJARUM SUPER Road Tour 10 Kota di Jawa Timur.

20 Mei Tahun 2006

LONTAR tampil sebagai bintang tamu dalam Pentas Reformasi Menggugat yang diadakan di pelataran gedung DPRD II Surabaya oleh KNPI dan kelompok Cipayung-Surabaya.

(Sumber dari : Larik Balik LONTAR).


[1] Diorama, “Kelompok musik LONtaR sebagai Alternative di dunia musik”, edisi no. 2 1996
[2] Warta Unair, “Seni Budaya Kampus : Cermin Kepedulian atau Media Ekspresi Rakyat”, no. 003/1/Agst/95
[3] Jawa Pos, Senin 9 November 1998
[4] Jawa Pos, 3 Juni 1998. Selain LONtaR, pentas musik yang dimulai pukul 10.00 sampai 17.00 bbwi itu diisi pula oleh Jangan Asem, Padi band, Seng Ken Ken dan Boomerang.
[5] KOMPAS, Senin, 15 November 1999.