Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

'Istana Jiwa' Putu Oka Sukanta


Novel sejarah yang berlatar belakang kisah dari para penyintas tragedi kemanusiaan 1965-1966 ini semakin memperjelas potret buram kehidupan yang lahir akibat konflik politik yang pernah terjadi di bumi ini. Tragedi kemanusiaan yang telah menuliskan sederet catatan hitam dan menorehkan derita berkepanjangan bagi sebagian anak bangsa memang masih menyisakan banyak misteri. Sulitnya kebenaran diungkap disebabkan oleh sedikitnya dokumen yang ditemukan yang dapat merangkai secara kronologis tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi, maka untuk mengisi kekurangan sumber primer sebenarnya masih diperlukan lebih banyak tuturan para penyintas sebagai tradisi lisan, yang dapat mengurangi munculnya beragam versi seperti apa yang tertulis dalam kebanyakan buku-buku sejarah saat ini.

Tuturan kisah dalam novel ini banyak berkisah tentang perempuan-perempuan tangguh yang berjuang untuk tetap bertahan hidup di tengah masyarakat yang telah memberi mereka stigmasi buruk, kondisi ini tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Berjuang untuk terus bertahan hidup, membesarkan anak-anak yang terpaksa ditinggalkan oleh ayah-ayah mereka, tidak membuat perempuan-perempuan ini kehilangan orientasi hidup, karena perlakuan diskriminatif masyarakat tersebut. Dan itulah yang telah mereka lakukan dari hari demi hari, bulan berganti, tahun berkejaran, telah menenggelamkan mereka dengan pengorbanan, kerja keras dan dalam ketidakpastian untuk sebuah penantian serta harapan yang panjang bagi kepulangan suami-suami mereka yang telah ditangkap sebagai tahanan politik

Ada beberapa hal menarik dalam tuturan kisah dalam novel ini diantaranya adalah dekonstruksi tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan. Pertentangan yang selama ini muncul dan didasari oleh adanya system dan struktur budaya patriarki dimana sering menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki tampaknya harus dihilangkan. Oposisi biner yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah, perempuan pengatur rumah tangga, laki-laki berada di ranah publik dan perempuan untuk semua yang bersifat domestik, laki-laki selalu lebih rasional dan perempuan emosional, tidak tergambar sama sekali dalam novel ini. Sebagian dari mereka memang pernah menjadi anggota organisasi gerakan perempuan yang cukup militan, tetapi medan juang yang mereka hadapi saat itu lebih keras dari ketika mereka memperjuangkan kepentingan perempuan secara progresif revolusioner.

Hal menarik lainnya dalam tuturan novel ini, mengajak pembaca untuk dapat berpikir secara logis tentang dua kutub yang sering dipertentangkan yaitu soal agama dan ideologi komunis. Benarkah ketika seseorang berada di dalam keyakinan ideologi tersebut telah menjadikannya atheis? Soal agama adalah soal keimanan, dan ideology adalah kumpulan cita-cita dan harapan untuk sesuatu yang lebih baik. Keduanya akan dapat saling menguatkan untuk sebuah pencapaian, tokoh Maria dalam novel ini memberikan gambaran yang utuh tentang hal itu. Ia menjadikan ideologi sebagai roh dalam kehidupannya, dan menyatukannya dengan agama sebagai keyakinan dalam keimanannya. Tumbangnya rezim Orde Baru telah membawa perubahan politik negeri ini ke arah keterbukaan. Pembebasan dan pemulangan para tapol dari kamp-kamp tahanan tak semuanya berakhir dengan kebahagiaan. Panjangnya masa penantian, doa-doa yang penuh harapan tak seluruhnya terbalas dengan pertemuan yang menyenangkan. Tekanan psikologis selama bertahun-tahun menjalani hukuman yang dijatuhkan tanpa proses pengadilan telah merubah sebagian mereka menjadi orang-orang dengan kepribadian yang berbeda. Banyak juga dari mereka yang berusaha untuk membangun kembali harkat kemanusiaannya, dengan integritas dan usaha untuk mendapatkan kekuatan baru, dan mereka memang berhasil. Tetapi sebagian lainnya tidak lagi dapat merasakan memiliki otoritas untuk menjadi bagian dari keluarganya sendiri, bahkan merasa menjadi beban bagi kehidupan anak dan istrinya karena tak lagi mampu memberikan nafkah. Mereka inilah yang digolongkan sebagai orang-orang yang tidak mampu bangkit dari keruntuhan sebuah harga diri, korban tragedi yang merasa asing berada di tengah-tengah keluarga yang mencintainya, sehingga memunculkan sebuah konflik batin yang baru. Seperti yang digambarkan pada tokoh Rampi dalam novel ini.

Selebihnya novel ini sangat layak dan perlu untuk dibaca, terutama oleh para generasi muda, agar sejarah kelam bangsa ini tidak terulang lagi.

Jakarta, 5 Januari 2012  

Ratna Hapsari, Ketua Asosiasi Guru Sejarah se Indonesia.

Buku baru terbitan Jaker




LELAKI BERNAMA KARSA
kump. cerpen
penulis : AJ Susmana
tahun terbit : oktober 2011
penerbit : JAKER

PRESS RILIS



Press Rilis Launching buku puisi
”Burung Burung Bersayap Air”
Karya Dewi Nova

”Burung Burung Bersayap Air” adalah buku kumpulan puisi
pertama Dewi Nova yang telah diterbitkan Penerbit Jaker.

Bukan satu kebetulan, tapi memang sudah direncanakan bila
acara peluncurannya pada tanggal 25 november 2010 nanti
bertepatan dengan hari Anti Penyiksaan/Kekerasan Terhadap
Perempuan.
Mengapa..? karena puisi-puisi karya Dewi Nova yang terangkum
dalam “Burung-Burung Bersayap Air” banyak cerita soal kekerasan,
penindasan, utamanya dialami kaum perempuan.
Dewi bertutur kekejian, penghinaan diri manusia oleh manusia,
mulai dari Aceh, Poso, Manggarai hingga jauh ke Patpong Thailand.
Bacalah: “Tutur Inong Aceh”, “Lelaki Bersenjata Itu, Kekasihku!”,
“Kepada Perempuan-perempuan Patpong”. Semua begitu realis,
kepiluan nan keji tepatnya.

Tapi tidak melulu cerita kalah, karena Dewi juga mencatat kisah
para perempuan tangguh, seperti dalam: “Perempuan-perempuan Gunung”,
“Kau Ambil Parang Kami, Kurampas Senjata Kalian!”, terbang hingga
ke Burma sana dalam sosok Aung San Suu Kyi.

Dewi juga apik melukis kata, memadukannya dengan berbagai nama flora,
menjadi judul yang nyastra macam: “Cinta Bunga Teh”, “Perempuan Opium”,
“Sekelopak Kisah”, “Bisik Daun Tembakau”, tapi semua tidak lantas
mengharu biru setelah kita berlanjut membaca, karena judul yang cantik tidak tercermin dalam isi, justru ketragisan didapat;

Karena pengalamannya bekerja di banyak lembaga kemasyarakatan
yang konsen dengan isu-isu perdagangan perempuan, konsultasi gender
dan sebagainya, maka tak heran dia mengerti benar persoalan.

Peluncuran ”Burung Burung Bersayap Air” akan diadakan pada
25 november 2010, Pukul 19.00 bertempat di Pusat Dokumentasi
Sastra HB. Jassin Kompleks Taman Ismail Marzuki,
Jln Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat.

Hadir sebagai pembahas Putu Oka Sukanta dan Myra Diarsi.
Dialog akan di moderatori oleh Susi Ivvaty.
Setelah itu ada Roso Suroso (Jaker), Sanggar Satu Bumi,
dan Aliansi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI)
akan tampil
sebagai apresiator atas karya-karya Dewi Nova.

PENERBIT JAKER
Jln KH Abdullah Syafe’i no. 51
(Casablanca) Jakarta Selatan
HP. 0817 687 95 98 (Cp. Tejo Priyono)
pp.jaker@gmail.com
http://jakker.blogspot.com

Partisipasi Menulis Esai Kemerdekaan


Bersama ini kami Panitia Pelaksanaan Festival Kemerdekaan 2010 yang diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) bersama Komunitas Perupa GERBONG mengundang Teman-teman terlibat dalam Tirakatan Kemerdekaan 2010 dengan cara menyumbang tulisan pendek/esai terkait momentum hari lahir Republik Indonesia ke 65 Tahun. Tulisan yang terkumpul akan kami satukan dalam ”Bunga Rampai Melawan Penjajahan Baru” dan kami mengundang para penyumbang tulisan untuk hadir pada Malam Tirakatan Kemerdekaan RI ke 65 pada tanggal 16 Agustus 2010.

Berikut pertanyaan yang bisa dijadikan acuan
1.Aktivitas apa yang Anda geluti sekarang?
2.Apa makna Kemerdekaan Indonesia bagi Anda?
Berpengaruh tidak terhadap aktivitas Anda?
3.Apa yang Anda harapkan setelah 65 Tahun Kemerdekaan Indonesia?
4.Nilai-nilai apa yang sedang Anda perjuangkan?

Festival Kemerdekaan 2010 sendiri dimaksud untuk merespon hari jadi Indonesia ke 65, menumbuhkan nasionalisme lewat seni budaya dan mengobarkan kembali cita-cita membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat dan berkepribadian.

Ketentuan penulisan esai
1.Terbuka untuk umum, pelajar, mahasiswa, aktivis lingkungan, pekerja politik dst.
2.Boleh mengirim tulisan lama mengenai kemerdekaan yang dirasa masih relevan untuk rencana bunga rampai yang akan kami susun.
3.Panjang tulisan minimal 400 kata.

Pengiriman tulisan
1.Tulisan/esai dikirim via email ke fest.merdeka2010@gmail.com
2.Tulisan Teman-teman, kami tunggu paling lambat tanggal 5 Agustus 2010.
3.Sertakan data diri/biografi ringkas penulis; foto diri, nama, alamat rumah/sekolah, aktivitas/pekerjaan, nomor kontak (hp/rumah/sekolah).

KAWAN DAN BERLAWAN siap terbit!



Judul : Kawan Dan Berlawan
Penulis : Dominggus Oktavianus
Penerbit: Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)
Cetakan : I, 2010
ISBN : 978-979-18950-6-4

KAMP0eNGSENI (Majalengka, 28 – 30 Mei 2010)




K A M P 0 e N G S E N I (Majalengka, 28 – 30 Mei 2010); Helaran Budaya, Diskusi Budaya, Panggung Seni, Pameran Karya Seni, Workshop, Festival Sesaji, Lelang Lukisan.
Penampil: Komunitas Peduli (Majalengka), Gardu Unik (Cirebon), Konser Kampung (Jatitujuh, Majalengka), Lentera Nusantara (Bandung), Ki Buyut (Bongas, Maja...lengka), Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER), Kameradz (Leuwimindung, Majalengka), Survive Garage (Jogjakarta), Ciungwanara (Sindangwangi, Majalengka), Dayak Bumi Segandu (Indramayu), Giri Kerenceng (Cicalengka, Bandung), United Breaker (Majalengka), Check Art Percussion (Cirebon), Ganapala (Majalengka) dsb.

4 Tahun Pramoedya Ananta Toer



Mengenang 4 Tahun Wafatnya Pramoedya Ananta Toer dengan tema acara ”Goresan Pena Pram Untuk Rakyat Indonesia”

Diselenggarakan oleh Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI), YPKP HAM, Lentera Dipantara, Teater Buruh (TABUR), Komunitas Planet Senen (Kop’S), Komoenitas Lesehan Keboedajaan (KOLEKAN), Universitas Jakarta, PERPENI, Kongres Mahasiswa Universitas Islam Negeri, Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER), AKAR, STIAMI, Senjakala, Formasi.

JADWAL KEGIATAN Diskusi Mingguan

Pertemuan Pertama

Pembahasan: Peran Kebudayaan dalam Mengawal Kehidupan Berbangsa; Bercermin pada Pram
Pembicara: Romo Muji Sutrisno, Yudi Latief
Hari/tanggal: Senin, 19 April 2010
Waktu: Pkl. 13:00-17:00 WIB
Tempat: STIAMI Jln Pangkalan Asem Raya no. 55 Cempaka Putih Jakarta Pusat

Pertemuan kedua

Pembahasan: Islam dalam Karya Pramoedya
Pembicara: Benny Setiono, Irman Syah
Hari/tanggal: Sabtu, 24 April 2010
Waktu: Pkl. 18.00-21:00 WIB
Tempat: Newseum Café Jl. Veteran Jakarta Pusat

Pertemuan ketiga

Pembahasan: Potret Perempuan dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Karya Pramoedya
Pembicara: Rieke Dyah Pitaloka, Uchikowati, Dr. Seto Mulyadi.
Hari/tanggal: Senin, 26 April 2010
Waktu: Pkl. 13:00-17:00 WIB
Tempat: Aula Universitas Jakarta

Pertemuan keempat

Pembahasan: Politik Sastra dalam Karya Pramoedya
Pembicara: AJ Susmana, Yonathan Rahardjo.
Hari/tanggal: Selasa, 27 April 2010
Waktu: Pkl. 13:00-17:00 WIB
Tempat: Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Ciputat

Puncak Kegiatan

Pagelaran Kebudayaan
Hari/tanggal: Rabu, 28 April 2010
Waktu: Pkl. 14:00-21:00 WIB
Tempat: Pelataran Taman Gelanggang Olah Raga (GOR) Senen
Pengisi Acara: Keluarga Pram, Teater Buruh, Komoenitas Lesehan
Keboedajaan, Seniman Jalanan, JAKER, KoPS dan Seniman Lainnya.

Segera Terbit Buku Ke-6 Jaker


IBU, MAAF AKU NAKAL
Yanti Irawan
Cetakan I, Februari 2010

Diterbitkan oleh
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)
Jln Tebet Dalam II G no. 1 Tebet Jakarta 12810
Telp/Fax. 021 835 45 13
pp.jaker@yahoo.com | http://jakker.blogspot.com

Cover Image
Aksi Buruh, Dokumentasi Koran Pembebasan

Layout
Jopi Ling

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Yanti Irawan
Ibu, Maaf Aku Nakal
Jakarta: JAKER, 2010
xiii + 78 halaman, 12 x 19.5 cm

Distributor
Penyalur dan Penerbit Buku Nalar
Jln Damai C-8, Komplek Kompas
Petukangan Selatan Jakarta 12270
Telp. 021 736 20 70 Fax. 021 73 883 103
Email: penyalur.nalar@gmail.com

ISBN 978-979-18950-5-7

---

Pengantar Penerbit

Puisi, sebagai halnya varian seni yang lain, bisa
menjadi alat/media untuk mencatat kejadian,
pengalaman, membekukan sebuah peristiwa yang
dialami seseorang, sekaligus juga sebagai ekspresi
perjuangan, melengkapi metode lain yang telah
dilakukan; protes, aksi massa, vergadering dan
sebagainya.

Contoh saat situasi represif jaman kediktatoran orde
baru Soeharto, saat semua ekspresi seni, ekspresi
politik (di luar kehendak penguasa) direpresi-dibungkam,
maka puisi bisa jadi saluran lain yang
cukup efektif sebagai alat, sebagai corong suara
ketidakadilan yang ada saat itu. Dan Wiji Thukul
adalah salah satu pelakunya, karya - karya Thukul
bisa begitu menakutkan dan sanggup membuat
“gemetar” penguasa orde baru saat itu, hingga
penguasa perlu membungkam Wiji Thukul.

Demikian pula halnya dengan puisi puisi Yanti
Irawan yang terangkum dalam buku yang sedang
anda baca ini, dia sadar betul bahwa ekspresi
berpuisi adalah salah satu cara melampiaskan rindu
dendamnya pada Ibu yang terpisah jarak ribuan mil
jauhnya, kenangan akan Bapak yang banyak
mengajarkan nilai nilai baik kehidupan, juga
kejadian - kejadian seputar kehidupan seorang
Yanti; soal teman, keluarga, pekerjaan, suami,
pernikahan, pengalaman perjalanan singgahnya ke
kota kota di nusantara - di dunia, dan aktivitasnya di
serikat buruh. Yanti demikian apik mencatat
pengalaman cintanya yang menggetarkan:

indah benar cinta ini/hingga membawaku ke sini/
hentakannya mengguncang dada/terus membuat
tubuhku bergetar/dan sejuk akhirnya/seperti embun di
luar jendela kaca/berlompatan di antara dahan
cemara/terus bergulir menyentuh hati kita
kabut malam melilit/udara dinginnya terus mengoda/
membuat kita terbang tinggi/di atas hamparan daun teh ini
aku tak akan perduli/sekalipun sayap kupu-kupu itu
mengganggu/menyelusup di antara jemari kita/
aku tetap ingin lalui/malam dingin ini bersamamu.


(puisi “Untuk Bapaknya Ada”, Puncak, 2003)

Atau menghadirkan kontradiksi kenyataaan lewat
puisinya yang berjudul “Kawanku Mati Tertembak” :

.... /maka/kagum yang tak terhingga/ketika menyaksikan
Bapak/membersihkan dan membuat kilap senjata
genggamnya/aku sering ikutan menghitung pelurunya/
bapakku sering kali menjelaskan:
senjata ini tak berbahaya/ini hanya untuk
mempertahankan negara dan rakyat/dari serangan
musuh yang akan melahap kedaulatan negara/
puluhan tahun kemudian/ketika Bapak sudah
pensiun/aku dapat berita/ketika kawanku mahasiswa
mati tertembak/entah oleh siapa/hari itu keadaan sangat
kacau/bahkan akupun terkurung dalam gedung
tempatku bekerja/tiga hari tak dapat pulang ke
rumah/bingung dan tak tau buat apa/akhirnya
kuputuskan berlari dan bergabung di Sudirman/
rakyat ternyata mulai bergerak/reformasi
/ku telpon Bapak/“Pak, senjata telah membunuh
rakyatnya…”/suara Bapak hanya sayup-sayup
terdengar/“Tapi itu bukan aku!”


(puisi “Kawanku Mati Tertembak”, Jakarta, 1998)

Yanti seperti memberi garansi pada kita semua,
bahwa ia bolehlah jadi contoh bagaimana fase hidup
seorang aktivis tidak mudah terhenti oleh usia,
pernikahan, kehadiran anak dan guncangan
guncangan hidup.

Lengkapnya lagi anda bisa membaca utuh buku ini,
hingga menemukan sosok Yanti yang lengkap,
berikut cita cita mulianya pada kehidupan.

Selamat membaca.

Jakarta, Februari 2010
Penerbit Jaker.

”Aku, Kamu, Kita, Dimana Wiji Thukul”@Reboan Seni #6 Jaker

”Aku, Kamu, Kita, Dimana Wiji Thukul”@Reboan Seni #6 Jaker

Waktunya Rabu, 10 Februari 2009, Jam 19.00 – 21.00 wib bertempat di
Sekretariat Jaker, Jln Tebet Dalam II G no. 1 Jakarta Selatan

Beberapa pekerja seni yang siap menggemakan kembali karya2 Wiji Thukul lewat puisi, graffiti action, lukisan & musik, antara lain: Wenri Wanhar (Jakarta), Faisal Getih (Majalengka), Rizal Abdulhadi (Jaker), Robiatun Sa’adiah (Jakarta), Qiyam Krisna Aji & Epan Nihilatoriscariot (STSI Bandung), Ki Suhardi (Jakarta) dll.

Wiji Thukul, walau sampai hari ini masih belum diketahui keberadaannya, tapi karya beliau tetap hidup, dan style berpuisi Thukul yang ”tembak langsung” itu, jadi gaya yang banyak ditiru penyair-pencipta lagu progressif di era sekarang, era perjuangan menentang noeliberalisme.

Pemberitahuan ini sekaligus sebagai undangan ke teman-teman semua.
Untuk informasi acara dsb, bisa kontak ke
021 3310 72 13 & 081 316 444 509 dengan Roso Suroso

Demikian & salam hangat.

Kerja Bersama
Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD) & Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)

Undangan Ngobrol Musik@Reboan Seni #5 Jaker



Teman – teman, forum REBOAN SENI JAKER kembali hadir untuk yang ke 5 kalinya, sebagai oase di tengah hegemoni seni budaya mainstream di bawah neoliberalisme, yang menjadikan seni budaya melulu jatuh sebagai hiburan, jauh melupakan – mengaburkan adanya penjajahan imperialisme yang terus terjadi atas bangsa ini.

Reboan Seni #5 kali ini, akan diisi dengan Ngobrol Musik dan mengambil tema: ”Tak Ada Revolusi Tanpa Lagu – Lagu”

Waktunya Rabu, 20 Januari 2010, Jam 19.00 – 21.00 wib bertempat di
Sekretariat Jaker, Jln Tebet Dalam II G no. 1 Jakarta Selatan

Beberapa pembicara yang siap presentasi, share membagi pengalaman berkarya/bermusik menyuarakan tema – tema sosial – politik dan kemanusiaan, antara lain :

1. Frankie Sahilatua (musisi)
2. Nurani Soyomukti (penulis buku ”Anti Musik Ngak Ngik Ngok;
Soekarno Membabat Seni Budaya Imperialis”)
3. Ras Muhamad (musisi & Duta Reggae Indonesia)
4. Rizal Abdulhadi (baladis muda JAKER)
5. Cholil EFEK RUMAH KACA (musisi)

Kami berharap, diskusi ini mampu mengobarkan kembali semangat berkarya dan menebalkan iman juang teman – teman, selain sebagai komunikasi diantara para pekerja seni budaya, hingga memungkinkan terbentuk front pekerja musik progressif yang siap merespon peristiwa yang terjadi di dunia musik khususnya, maupun peristiwa seni budaya pada umumnya.

Pemberitahuan ini sekaligus sebagai undangan ke teman-teman semua.
Untuk informasi acara dsb, bisa kontak ke
021 3310 72 13 & 081 316 444 509 dengan Roso Suroso

Demikian & salam hangat.

pp.jaker@gmail.com | http://jakker.blogspot.com

Undangan Panggung Seni Anti Korupsi #3



Hadiri, Pentas Rakyat Anti Korupsi #3

Present:
Lautan Tangis Sujiwo Tejo,
Deddy Mizwar,
Rieke Dyah Pitaloka,
Sony Tulung,
Effendy Gazali,
Dradjad Wibowo,
Lokal Ambience,
Sanggar Muka Besi,
Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER),
Andy F. Noya

dll

Sabtu, 21 Nov 09, Pkl 19.00-selesai
Halaman Gedung KPK Jln HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta

Acara ini diorganisir oleh
POSKO BERSAMA ANTI KORUPSI,
Cp. 0818 46 70 80

Malam Seni Anti Korupsi



Hadiri, Pentas Rakyat Anti Korupsi | Menghadirkan: Ras Muhamad, Franky Sahilatua Kunokini, Rizal Abdulhadi, Ki Suhardi dst | Sabtu, 14 Nov 09, Pkl 18.30 wib | Halaman Gedung KPK Jln HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta | Acara ini diorganisir oleh POSKO BERSAMA ANTI KORUPSI, Cp. 0818 46 70 80

Launching novel BURUAN


Dalam upaya mengingat dan memahami masa lalu, Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan, bekerjasama dengan Goethe-Institut, Institut Sejarah Sosial Indonesia, TAPOL London, JAKER, KIPAS, menggelar launching, bedah buku dan pemutaran film documenter, serta mengundang kehadiran Anda.

Novel “BURUAN” karya Putu Oka Sukanta yang ditulis pada tahun 1963, pernah dimuat bersambung di Majalah Minggu Pagi di Jogja, tahun 1964, dan sekarang diterbitkan oleh JAKER (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat). Karya fiksi ini bercerita tentang peran nelayan di masa Revoslui 45, di Tambak Lorok dan perjuangannya melawan si Juragan Perahu di Kali Klidang Jawa Tengah.

Pembahas
AJ Susmana, penulis, alumnus Universitas Gajah Mada 1998, yang menjabat Wakil Sekjen DPP PAPERNAS.

Moderator : I Gusti Agung Ayu Ratih.

Acara
Tempat : Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9 Jakarta Pusat.
Hari /Tanggal : Selasa, 17 Nopember 2009
Jam 15.00 – 18.30 : Bedah 2 buku dan pembacaan cerpen.
Jam 18,30 – 19,15 : Istirahat (Santap malam)
Jam 19,15 – 21.00i : Pemutaran dan diskusi film Tjidurian 19.